Pemerintah Diminta Perbaiki Kebijakan Cukai Rokok

UANG | 22 September 2019 13:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kebijakan tarif cukai rokok dinilai masih memiliki celah yang berpotensi merugikan negara. Karena itu, pemerintah didorong untuk melakukan perbaikan terhadap kebijakan ini, di antaranya melakukan penelitian dan investigasi mengenai potensi kebocoran dalam penerimaan cukai.

"Perlu perbaikan-perbaikan aturan, sebab masalah ini menyangkut kepentingan publik. Pemasukan negara dari cukai harus maksimal untuk pembiayaan-pembiayaan bagi kepentingan masyarakat. Misalnya pembangunan infrastruktur, pembiayaan fasilitas kesehatan masyarakat dan lainnya," kata Pemerhati Kebijakan Publik Agus Wahyudin, Minggu (22/9).

Agus menjelaskan, lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perlu dilibatkan untuk melakukan kajian dan rekomendasi kepada pemerintah terkait struktur tarif cukai rokok. Selain itu, proses pembuatan kebijakan harus transparan.

"KPK perlu masuk untuk melakukan perhitungan, untuk mengecek konsistensi regulasi dan memberikan masukan apalagi ada potensi kehilangan penerimaan negara yang cukup besar. Jadi saya kira ini bagian pencegahan KPK bias turut memberikan masukan. Peran strategis KPK penting untuk ini," kata Aktivis Antikorupsi Danang Widiyoko.

Struktur tarif cukai rokok saat ini dinilai memiliki banyak celah yang menyebabkan pendapatan negara tidak optimal. Salah satunya akibat perusahaan rokok besar yang masih bisa membayar cukai rokok yang lebih murah.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Bisnis Abdillah Ahsan menilai, KPK perlu membuat kajian tentang kebijakan struktur tarif cukai rokok untuk mengukur peluang penerimaan negara. Kebijakan saat ini tidak efisien dan tidak konsisten dalam hal pengendalian konsumsi dan optimalisasi potensi penerimaan negara.

Dia mencontohkan, dari penyederhanaan golongan tarif saja, penerimaan negara seharusnya bisa bertambah hingga Rp 7,4 triliun per tahun. "Jumlah ini sangat banyak. KPK semangat mengadakan OTT untuk kasus-kasus Rp 5 miliar, ini ada potensi hilang Rp 7,4 triliun karena kebijakan yang tidak efisien," tukas Abdillah.

Padahal, dana tersebut bisa digunakan untuk membiayai pembangunan baik infrastruktur maupun sumber daya manusia. Abdillah berharap keterlibatan KPK dalam kajian kebijakan tarif cukai rokok mampu mendorong pemerintah membuat kebijakan yang berkeadilan.

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Berapa Penerimaan Negara dari Kenaikan Cukai Rokok 23 Persen?
Indef: Kenaikan Cukai Rokok Terlalu Tinggi
Asosiasi Harap Pemerintah Tak Ikut Naikkan Cukai Produk Tembakau Alternatif
Harga Rokok Naik, Saham Perusahaan Penuh Ketidakpastiaan Hingga Oktober 2019
Penggabungan Batasan Produksi SKM dan SPM Cegah Kecurangan Pajak
UI: Kalau Mau Turunkan Konsumsi, Harga Rokok Harus Rp70.000 per Bungkus

(mdk/azz)