Pemerintah Diminta Pisahkan Aturan Produk Tembakau Alternatif dengan Rokok

UANG | 5 November 2019 12:18 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Pemerintah disarankan untuk membuat regulasi khusus bagi produk tembakau alternatif. Pemerintah diminta untuk tidak menyamakan produk tembakau alternatif seperti rokok kemudian mengatur ke dalam regulasi yang sama dengan produk tembakau alternatif.

Ahli toksikologi dari Universitas Airlangga, Sho'im Hidayat menjelaskan, produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, memang menggunakan bahan baku dari tembakau seperti rokok.

Namun, produk tersebut tidak membakar tembakau, tapi memanaskan pada suhu maksimum 350 derajat celcius dengan menggunakan perangkat elektronik khusus, sehingga tidak menghasilkan TAR dan memiliki zat kimia berbahaya yang lebih rendah daripada rokok.

"Karena tidak mengandung TAR, ya, regulasinya sebaiknya dibedakan dengan rokok. Jadi, tentu regulasinya harus dibedakan karena tidak ada TAR lagi, yang ada hanya nikotin," kata Sho’im di Jakarta.

TAR merupakan zat kimia berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran. Berdasarkan data National Cancer Institute Amerika Serikat, TAR mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker. Hampir dari 7.000 bahan kimia yang ada di dalam rokok, 2.000 di antaranya terdapat pada TAR.

Dengan tidak adanya TAR, Sho’im melanjutkan, produk tembakau yang dipanaskan bukan berarti bebas risiko. "Risiko itu kan peluang terjadinya hal yang negatif, dalam hal rokok ya penyakit. Nah, kalau produk tembakau yang dipanaskan itu meski tidak bebas risikonya sepenuhnya, tapi risikonya jauh lebih rendah daripada rokok," katanya.

Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan Institut Federal Jerman untuk Penilaian Risiko (German Federal Institute for Risk Assessment) pada 2018 lalu. Hasil riset itu menyatakan produk tembakau yang dipanaskan memiliki tingkat toksisitas (tingkat merusak suatu sel) yang lebih rendah hingga 80-99 persen daripada rokok.

Hasil penelitian dari UK Committee on Toxicology (COT), bagian dari Food Standards Agency, juga menunjukkan kesimpulan yang positif bagi produk tembakau yang dipanaskan. COT menyimpulkan bahwa produk tersebut mengurangi bahan kimia berbahaya sebesar 50 hingga 90 persen dibandingkan dengan asap rokok.

Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Ariyo Bimmo menambahkan produk tembakau yang dipanaskan merupakan hasil pengembangan teknologi di industri tembakau. Sependapat dengan Sho’im, menurut dia, produk ini sudah seharusnya dibuatkan regulasi terpisah. Apalagi, sejumlah penelitian di dalam dan luar negeri sudah membuktikan bahwa produk ini minim risiko kesehatan dibandingkan dengan rokok.

Ditambah lagi, salah satu produk dari produk tembakau yang dipanaskan sudah melalui uji ilmiah selama dua tahun oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (U.S. Food and Drug Administration). Setelah hasilnya menunjukkan sesuai untuk perlindungan kesehatan masyarakat, FDA mengizinkan perangkat itu dijual.

Dengan fakta-fakta yang merujuk pada kajian tersebut, pemerintah harusnya juga melakukan uji ilmiah sehingga tidak ragu untuk membuat regulasi baru. "Pemerintah seharusnya terbuka dan mendukung terhadap inovasi yang dihadirkan oleh industri tembakau dalam memberikan manfaat bagi publik, sehingga sudah sepantasnya didukung dengan regulasi. Dengan bukti-bukti ilmiah yang ada, pemerintah justru membuat keputusan yang salah jika masih menganggap produk ini layak dimasukkan ke dalam regulasi yang sama dengan rokok," tutupnya.

Saat ini, pemerintah baru mengatur produk tembakau alternatif dengan penetapan tarif cukai Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) sebesar 57 persen. Ketentuan ini diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 146/PMK.010/2017.

Baca juga:
Petani Tembakau Tolak Kenaikan Cukai Rokok 22 Persen di 2020
Pemerintah Didorong Sediakan Informasi Akurat & Regulasi Produk Tembakau Alternatif
Tradisi Berbagi Tembakau Petani Gunung Slamet
Petani Tembakau dan Cengkeh Bakal Terdampak Naiknya Harga Rokok di 2020

(mdk/idr)