Pemerintah Dituntut Ciptakan Terobosan Baru Atasi Covid-19 dan Dampaknya ke Ekonomi

Pemerintah Dituntut Ciptakan Terobosan Baru Atasi Covid-19 dan Dampaknya ke Ekonomi
UANG | 11 Juli 2020 10:19 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, menilai pemerintah pemerintah terlalu berlarut-larut dalam mengatasi pandemi virus corona atau Covid-19.Bahkan, dari kacamatanya, pemerintah terkesan kebingungan.

"Justru karena kita berlarut-larut itu kita harus segera menghentikan itu dan justru itu yang harus menyadarkan kita bahwa kalau kita berkutat di situ terus kita tidak akan menyelesaikan masalah. Titik," kata Enny dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (11/7).

Menurutnya, pemerintah harus melakukan terobosan-terobosan tepat di tengah situasi sekarang ini. "Kita tetap menyelesaikan problem utama menyelesaikan pandemi sekaligus kita beradaptasi juga. Itu bukan berdamai. Beradaptasi itu kita tetap harus menjalankan segala protokol covid tetapi kita harus cari strategi terobosan untuk survive itu menjadi kata kunci sekarang," jelas dia.

Dia menambahkan, persoalan sekarang bukan lagi berdebat akan mana yang mesti didahulukan antara kesehatan dan keuangan. Namun, lebih kepada saling bergandeng tangan untuk mencari terobosan tepat agar bisa menyelesaikan persoalan pandemi.

"Sekarang kita bareng-bareng mencari terobosan yang tepat apa untuk kita bisa survive, beradaptasi menyelesaikan secara ekonomi melakukan sesuatu yang tepat," tandas dia.

1 dari 1 halaman

Cerita Pilu Pengrajin Tikar Lipat, 4 Bulan Tanpa Pemasukan Akibat Corona

pengrajin tikar lipat 4 bulan tanpa pemasukan akibat corona

Pandemi Virus Corona membuat seluruh elemen ekonomi terhempas cukup dalam, tidak terkecuali bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sebanyak 60 juta pelaku UMKM di Indonesia dinyatakan terdampak akibat virus baru tersebut.

Pengrajin tikar lipat binaan PT Jamkrindo, Heryanto mengatakan, selama 4 bulan terakhir pihaknya sudah tidak lagi memproduksi barang untuk dipasarkan. Hal tersebut karena permintaan tikar menurun drastis.

"Jadi kami sudah hampir 4 bulan tidak produksi. Pemasaran kami dari online, dari bazar ke bazar, distributor dan agen pun sama setop tidak bergerak," ujar Heryanto dalam diskusi online, Jakarta, Jumat (10/7).

Heryanto mengatakan, sebanyak 30 kepala keluarga yang bekerja di usaha miliknya juga turut terkena imbas. Sebab, usaha tersebut sebelumnya menjadi andalan ketika Covid-19 belum menjangkiti Indonesia.

"Masyarakat sekitar yang kami berdayakan hampir 30 kepala keluarga dan mereka hampir rata-rata ibu rumah tangga. Kalau bicara dampak kami sangat berpengaruh dan kena dampak," jelasnya.

Dia mengaku selama ini tidak mengandalkan pinjaman dari perbankan untuk menjalankan usaha. Tetapi mengandalkan Jamkrindo dengan permodalan yang memadai.

"Ke bank sih tidak ya untungnya. Dalam masa seperti ini kami pasti akan bingung. Kami binaan Jamkrindo jadi dari segi permodalan kami dibantu," jelasnya.

(mdk/bim)

Baca juga:
Ada Virus Corona, Anggaran Gemuk Kemhan Jadi Sorotan
Kritik Faisal Basri: Ekonomi Sangat Bergantung Pada Penanganan Pandemi
Virus Corona Ancam Indonesia Kehilangan Status Negara Menengah Atas
Faisal Basri Sentil Pengadaan Bansos Sembako Corona Tak Berdayakan UMKM
Saat Covid-19 'Menyerang' Sekolah Prajurit
Dokter RS Sultan Agung Semarang Meninggal Akibat Covid-19
Menko Luhut Dorong Kaltim Genjot Hilirisasi Selamatkan Ekonomi Imbas Pandemi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami