Pemerintah Gandeng Jepang Bangun Terowongan di Tol Trans Sumatera

UANG » MALANG | 17 September 2019 12:49 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendukung inovasi dan pemanfaatan teknologi pembangunan terowongan untuk jalan karena topografi Indonesia yang beragam mulai dari dataran rendah, perbukitan hingga pegunungan.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, salah satu terowongan yang akan dibangun berada di Tol Trans Sumatera, yakni pada ruas Tol Bengkulu-Muara Enim. Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan Pemerintah Jepang dalam menyiapkan perencanaan pembangunan.

Menurutnya, pembangunan terowongan ini memiliki tantangan luar biasa karena menembus kawasan Bukit Barisan yang merupakan kawasan rawan bencana gunung api dan gerakan tanah, sehingga upaya mitigasi bencana pada tahap perencanaan menjadi sangat penting.

Dia menjelaskan, pembangunan terowongan jalan memiliki kelebihan dalam menjaga alam dan lansekapnya, serta memangkas jarak tempuh, namun perlu dipertimbangkan dari sisi biaya dan risiko konstruksi.

"Infrastruktur terowongan bukan merupakan teknologi baru di Indonesia. Teknologi terowongan sudah diterapkan pada pembangunan bendungan berupa saluran pengelak. Namun di bidang jalan memang agak terlambat. Untuk itu, kita dorong agar lebih banyak terowongan dalam pembangunan jalan," kata Basuki dikutip Antara, Selasa (17/9).

Terowongan yang sedang dibangun Kementerian PUPR saat ini berada di ruas Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) dengan panjang 472 meter dan diameter 14 meter. Pembangunannya menggunakan metode New Austrian Tunneling Methods (NATM). Selain NATM, terdapat juga metode Tunneling Boring Machine (TBM) yang digunakan dalam pembangunan jalur Moda Raya Terpadu (MRT) di Jakarta.

Teknologi terowongan juga akan diterapkan pada ruas Tol Padang-Pekanbaru sebanyak lima terowongan dengan total panjang 8,95 km yang menembus pegunungan Bukit Barisan. Selain di infrastruktur jalan, terowongan saat ini juga banyak digunakan dalam pembangunan seperti Bendungan Kuwil, Way Sekampung, dan lainnya.

Direktur Jenderal Bina Marga Sugiyartanto mengatakan, terowongan merupakan inovasi konstruksi modern dan dapat menjadi alternatif pemanfaatan ruang bawah tanah. Menurutnya, salah satu proyek terowongan yang sukses yaitu pembangunan MRT Jakarta yang menjadi contoh sukses karena dapat menekan kemacetan Jakarta.

"MRT ini menjadi solusi kemacetan di DKI Jakarta, MRT dibangun di pusat kota yang padat dan diselesaikan dengan gangguan minimal pada wilayah sekitar. Solusi yang sama bisa digunakan di kota besar," katanya.

Kementerian PUPR telah membentuk Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) yang bertujuan meningkatkan ketertiban dalam penyelenggaraan dan peningkatan keamanan serta untuk meningkatkan keandalan jembatan khusus dan terowongan sehingga dapat mencegah atau mengurangi risiko kegagalan bangunan.

Tugas komisi ini mengkaji dan mengevaluasi keamanan jembatan mulai dari tahap desain, pemanfaatan hingga tahap pemeliharaan. Anggota KKJTJ terdiri dari ahli jembatan dan terowongan dari Kementerian PUPR, akademisi dan praktisi.

Baca juga:
Pemerintah Akan Manfaatkan Aset di Jakarta untuk Bangun Ibu Kota Baru
Pemkot Jaktim Minta Pengembang Tol Becakayu Bongkar Trotoar di Tengah Jl Kalimalang
Menko Darmin: Infrastruktur Dibangun Jokowi Setara 20 Tahun Sebelumnya
Revitalisasi JPO, Underpass Pasar Minggu Ditutup
Dana Asuransi Jiwa Siap Dialokasikan untuk Pembangunan Infrastruktur
VIDEO: Menteri Basuki Bakal Gelar Sayembara Desain Istana Presiden di Papua

(mdk/azz)