Pemerintah Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Akan Terkoreksi Paling Dalam

Pemerintah Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Akan Terkoreksi Paling Dalam
UANG | 3 Juni 2020 17:52 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kementerian Koordinator Perekonomian memprediksi pertumbuhan perekonomian Indonesia di kuartal II 2020 jatuh paling dalam. Imbasnya, jumlah pengangguran diperkirakan terus meningkat hingga 5,23 juta dan kemiskinan bertambah 4,86 juta.

"Kalau di kuartal I masih di 2,97 persen, kita memperkirakan kuartal II ini akan jatuh sekali kemungkinan minus di bawah growth, artinya siklus kuartal II jatuh paling dalam," kata Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian (Sesmenko), Susiwijono Moegiarso, dalam suatu diskusi online Pactoc Connect, Rabu (3/6).

Susiwijono menyebut penurunan tersebut dipicu akibat lini ekonomi mengalami penurunan signifikan. Selain itu, melambatnya permintaan ekonomi dunia terganggunya rantai pasok penawaran global, serta rendahnya harga komoditas kompak menyebabkan anjloknya volume perdagangan dunia,

"Berbagai sentimen di publik, konsumen, pebisnis, market, dan semuanya semakin mengalami tekanan," ujarnya.

Ditambah lagi banyak pekerja yang terkena PHK. Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, tenaga kerja yang terdampak covid-19 sekitar 3,05 juta orang per 2 Juni 2020, dan memperkirakan tambahan pengangguran bisa mencapai 5,23 juta orang.

"Bappenas memperkirakan tambahan pengangguran 4,2 juta, dan angka kemiskinan dan pengangguran akan terus meningkat, bahkan dalam skenario sangat berat diperkirakan kemiskinan bertambah 4,86 juta orang dan pengangguran bertambah 5,23 juta," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Pendorong Pertumbuhan Kuartal I

kuartal i

Susiwijono mengatakan ekonomi Indonesia di kuartal I masih tumbuh melambat dengan sumber pertumbuhan terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga yang hanya sebesar 1,56 persen, PMTB 0,56 persen, konsumsi pemerintah 0,22 persen, dan ekspor 0,05 persen.

Sementara dari sisi lapangan usaha, sumber pertumbuhan terbesar berasal dari sektor informasi dan komunikasi sebesar 0,53 persen, industri pengolahan 0,44 persen, dan jasa keuangan dan asuransi sebesar 0,44 persen.

"Saya rasa ini hal yang harus diantisipasi sama-sama dalam masa pandemi ini. Leading economic indicators Indonesia mengalami penurunan," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Baca juga:
Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional Naik Menjadi Rp 677,2 Triliun
Jokowi Minta Program Pemulihan Ekonomi Utamakan Industri Padat Karya
Bank Dunia Kritik Pemberian Insentif Pajak RI di Tengah Pandemi
Jokowi Minta Ada Konsep Berbagi Beban dalam Pemulihan Ekonomi Nasional
Menko Luhut: Dampak Virus Corona, GDP Negara Baru Bisa Pulih Dalam 5 Tahun
Kemenkeu Sebut Kerugian Akibat Corona Terlihat Pada Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
Pembukaan Sektor Ekonomi Dinilai Bisa Redam Tekanan pada Pengusaha dan Pekerja

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Curhat Siswa Lulusan Tanpa Ujian Nasional

5