Pemerintah Terbitkan Protokol Pertama Persetujuan Perdagangan Barang ASEAN

Pemerintah Terbitkan Protokol Pertama Persetujuan Perdagangan Barang ASEAN
UANG | 21 September 2020 15:59 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 131/PMK.04/2020 tentang Tata Cara Pengenaan Tarif Bea Masuk Barang Impor Berdasarkan Persetujuan Perdagangan Barang ASEAN. Beleid ini mengubah persetujuan perdagangan barang ASEAN melalui Peraturan Presiden Nomor 84 Tahun 2020 untuk menggenjot ekspor negara-negara di dalam kawasan Asia Tenggara.

"PMK tersebut diterbitkan sebagai landasan hukum dan pedoman terkait tata laksana pemberian tarif preferensi atas persetujuan perdagangan barang ASEAN," kata Direktur Kepabeanan Internasional dan Antarlembaga Kementerian Keuangan Syarif Hidayat di Jakarta, dikutip Antara, Senin (21/9).

Dia menjelaskan, aturan yang mulai berlaku 20 September 2020 itu akan mengatur skema baru dalam implementasi Deklarasi Asal Barang yang diatur menggunakan Sertifikasi Mandiri atau ASEAN Wide Self Certification (AWSC), menggantikan skema lama Invoice Declaration. Kemudian, penggunaan Surat Keterangan Asal (SKA) Form D dengan format baru.

"Dengan ditetapkannya PMK ini, maka ketentuan ATIGA (Persetujuan Perdagangan Barang ASEAN) yang sebelumnya mengacu pada PMK Nomor 229/PMK.07/2017, sekarang mengacu pada PMK ini," ucapnya.

Ketentuan dalam PMK itu berlaku terhadap barang impor yang pemberitahuan pabeannya telah mendapatkan nomor dan tanggal pendaftaran dari Kantor Pabean tempat dipenuhinya kewajiban pabean sejak berlakunya PMK tersebut.

Selain itu, ditetapkan pula ketentuan transisi sesuai kesepakatan negara Anggota ASEAN, yaitu untuk Invoice Declaration yang diterbitkan sebelum berlakunya PMK ini, masih tetap berlaku. Kemudian, tata cara pengenaan tarifnya dilaksanakan sesuai dengan tata cara yang tercantum dalam Persetujuan Perdagangan Barang ASEAN (ATIGA) dan MoU 2nd SCPP.

Selain itu, SKA Form D dengan format lama dapat diterbitkan sampai dengan tanggal 20 Desember 2020 dan tata cara pengenaan tarifnya dilaksanakan sesuai dengan tata cara dalam ATIGA. (mdk/azz)

Baca juga:
Sri Mulyani Sebut Dukungan Teknologi Penting untuk Tingkatkan Ekonomi Syariah
Kemenkeu Ungkap Dampak Jika Pemerintah Tidak Berutang Saat Ada Pandemi Corona
Imbas Pandemi, Pertumbuhan Ekonomi RI Sulit Diproyeksi
Kemenkeu Optimistis Serapan Anggaran PEN 100 Persen di Akhir Tahun, ini Alasannya
Menteri Sri Mulyani Pastikan Penanggulangan Pandemi Corona Dilakukan Transparan
Menkeu Sri Mulyani: Penurunan Pertumbuhan Kuartal II Terbesar Sejak Krisis 98

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami