Pendapatan Lippo Karawaci Diprediksi Tumbuh 22 Persen di 2019

UANG | 12 September 2019 12:05 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) terus mencatatkan kinerja positif menjelang kuartal III-2019. Berdasarkan perkiraan (forecast), Lippo diproyeksikan menjadi perusahaan pengembang dengan pendapatan tertinggi sekaligus rasio utang terendah di tahun 2019.

Secara keseluruhan, enam indikator utama menunjukkan kinerja cemerlang LPKR sebagai yang terbaik di antara para pengembang. Enam indikator tersebut adalah Revenue,Recurring Revenue, Assets, Debt to Equity Ratio, Number of Malls, dan Average Trading Volume.

Proyeksi ini tak lepas dari right issue yang dilakukan Lippo pada bulan Juni 2019 lalu yang berhasil meraup dana segar sebesar USD 787 juta, atau setara dengan Rp11,2 triliun, dan membuat Lippo merajai bisnis properti Tanah Air.

Head of Research Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi mengatakan bahwa kinerja positif LPKR sejalan dengan tren bisnis sektor properti yang positif. "Apalagi dari segi bunga juga saat ini masih kompetitif dan ekonomi secara makro juga masih cukup baik," kata Lanjar dikutip dari Antara di Jakarta, Rabu (11/9).

Menurut dia, raihan dana right issue yang didapat LPKR juga menjadikan struktur permodalan lebih kuat sehingga bisa lebih ekspansif. Selain itu, LPKR juga dianggap lihai dalam membaca arah bisnis dengan menggandeng berbagai partner strategis. Dukungan konsumen yang terus percaya dengan berbagai inovasi LPKR juga menambah kekuatan perusahaan tersebut.

LPKR diproyeksikan akan membukukan pendapatan senilai Rp13,5 triliun sepanjang tahun 2019, naik 22 persen dari Rp11,057 triliun di tahun sebelumnya. Pendapatan LPKR meningkat pesat di saat beberapa pengembang lain bahkan tidak mampu menyamai pendapatan tahun 2018.

istimewa ©2019 Merdeka.com

Misalnya, pengembang Ciputra (CTRA) yang merupakan pengembang terbesar kedua di Indonesia diperkirakan hanya membukukan pendapatan sebesar Rp7,4 triliun di tahun 2019, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp7,7triliun. Agung Podomoro (APLN) mengalami hal yang sama dengan capaian Rp4,5 triliun, turun dari Rp5 triliun tahun lalu.

Pengembang lain juga belum mampu mendekati LPKR meski beberapa di antaranya mengalami kenaikan. Sinar Mas Land (BSDE) diperkirakan meraih pendapatan sebesar Rp7,2 triliun, Pakuwon (PWON) Rp7,1 triliun, Summarecon(SMRA) Rp5,9 triliun, Jababeka (KIJA) Rp3,3 triliun, dan Modern Land Rp2,7 triliun.

Baca juga:
KPPU: Kasus Monopoli OVO dan Mall Lippo Group Masuk Tahap Penyelidikan
KPPU Selidiki Dugaan Monopoli OVO untuk Pembayaran Parkir Mal Lippo Group
Dikabarkan Bakal Masuk MSCI, Saham LPKR Beri Sentimen Positif ke Pelaku Pasar
Anak Perusahaan Lippo Akhirnya Serahkan Stadion Borombong ke Pemprov Sulsel
John Riady: Pembangunan Proyek Meikarta Terus Berlanjut
Gandeng Sumitomo, Lippo Group Perkuat Usaha Sektor Logistik

(mdk/idr)