Peneliti UI: Penyederhanaan Cukai Rokok Bisa Naikkan Penerimaan Negara Rp7 Triliun

UANG | 26 Agustus 2019 15:11 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Peneliti Lembaga Demografi, Abdillah Ahsan menyebut bahwa skema cukai rokok Indonesia saat ini terlalu rumit. Menurutnya, cukai rokok ditentukan oleh beberapa pertimbangan, misalnya jenis rokoknya, jumlah produksi, dan rentang harga jual.

"Intinya saat ini ada 10 jenis tarif cukai (rokok). Empat untuk kretek tangan, enam untuk rokok mesin," papar Abdillah dalam sebuah Workshop Bahaya Industri Rokok di Swiss-bel Hotel, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (25/8).

Menurut Abdillah, sepuluh jenis tarif tidak sederhana. Baginya, hal itu bisa disederhanakan menjadi hanya beberapa saja. Penyederhanaan difokuskan dalam jenis rokok yang diproduksi oleh mesin. Yang mana jenis ini tidak terlalu banyak menyerap tenaga kerja.

"Rokok tangan oke kita paham. Kita sepakat lah ya karena itu menyerap tenaga kerja. Nah yang mesin tidak perlu ada perbedaan perlakuan cukai," katanya.

Saat ini, lanjut Abdillah, ada enam jenis jenis tarif rokok yang diproduksi oleh mesin. Yakni tiga untuk kretek mesin dan tiga untuk jenis putih mesin atau rokok rendah nikotin. Dalam jenis rokok yang diproduksi oleh mesin ini, kata Abdillah, masih dibagi lagi berdasarkan kuantitas produksinya.

"Golongan satu itu yang produksi tiga miliar ke atas, dan golongan dua itu yang di bawah tiga miliar," paparnya.

Hal ini berarti, jika ada perusahaan rokok yang hanya memproduksi tiga miliar kurang satu batang, maka tarif rokoknya ikut ke tarif golongan dua.

Melihat fakta tersebut, Abdillah menilai, jika perbedaan golongan tarif dalam rokok yang diproduksi mesin ini ditiadakan, atau dileburkan. Maka negara akan memperoleh lonjakan pemasukan dari cukai rokok. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa cukai rokok kretek mesin golongan satu sebesar Rp590 sementara untuk tarif cukai rokok putih mesin golongan satu Rp625.

"Maka ada selisih sebesar Rp35 per batang ya," jelas Abdillah.

Maka jika keduanya dileburkan mengikuti tarif Rp625, menurut perhitungan ekonom UI itu, negara akan memperoleh keuntungan 35 per batangnya dari rokok kretek mesin. Dan, ia melanjutkan, konsumen pun tidak akan diberatkan bila ada kenaikan cukai rokok kretek mesin sebesar Rp35.

"Perokok yang termiskin pun ya tanyain, bapak kalau harga rokoknya saya naikin 35 rupiah apakah keberatan? Saya berani taruhan dia gak bakal keberatan," tegasnya.

Sehingga, menurut Abdillah, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak melakukan penyederhanaan tarif cukai rokok kretek mesin.

Menurut Abdillah, seandainya pemerintah mengikuti skema seperti yang ia sarankan, maka negara akan mendapatkan pemasukan tambahan sebesar Rp7 triliun. Abdillah menjelaskan, perhitungan ini didapat dari angka 35 dikali kan jumlah produksi kretek mesin golongan satu yang mencapai angka 211 miliar batang pertahun. "211 miliar dikalikan Rp35 itu kita dapat 7 triliunan," tutup Abdillah.

Reporter: Yopi

Sumber: Liputan6.com

Jangan Lewatkan:

Ikuti Polling Setujukah Harga Rokok Naik? Klik di Sini!

Baca juga:
PMI: Perlu Diskusi dan Penelitian Ilmiah tentang Produk Tembakau Alternatif
Pengusaha Beri Solusi Peningkatan Cukai Rokok di 2020
UI: Diskon Rokok Jadi Petaka Demografi
KPPU Rekomendasikan Pemerintah Gabung Batasan Produksi SPM dan SKM
Asosiasi Minta Pemerintah Beri Informasi Akurat Bahaya Asap Hasil Pembakaran
Penyederhanaan Tarif Cukai Disebut Bisa Picu Peredaran Rokok Ilegal

(mdk/idr)

TOPIK TERKAIT