Penelitian dan pengembangan produk jamu butuh bantuan perbankan

Penelitian dan pengembangan produk jamu butuh bantuan perbankan
obat herbal. ©2012 nydailynews.com
EKONOMI | 30 Juli 2013 12:25 Reporter : Ardyan Mohamad

Merdeka.com - Asosiasi Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) mengaku siap mendukung upaya penelitian dan pengembangan obat herbal. Hanya saja, mereka terbatas dalam hal pendanaan. Peran dan bantuan sektor perbankan sangat diharapkan.

Ketua Umum GP Jamu Charles Saerang mengatakan, tidak banyak pengusaha jamu yang memiliki kapital besar. Padahal penelitian dan pengembangan produk butuh suntikan dana yang tidak sedikit.

Dia mencontohkan kerja sama pihaknya dengan Pusat Studi Biofarmaka IPB. Dana Rp 1 miliar hanya bisa digunakan untuk mengembangkan satu jenis ekstrak tanaman obat sampai siap diproduksi massal.

"Saya tanya sama (IPB), apakah bisa mendongkrak kalau cuma Rp 1 miliar, kalau kurang, berarti (peneliti) harus difasilitas perbankan. Selama ini kan perbankan tidak main di jamu," ujarnya di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (30/7).

Dari pemaparan Charles, biaya pusat studi untuk mengembangkan obat herbal membengkak di level budidaya. Sebab, penyediaan lahan, perawatan, sampai bayaran petani ditanggung peneliti.

"Sebab, pusat studi kan memang dari hulu sampai hilir, kan mereka juga harus mengayomi petani. Harapan kami perbankan harus mulai dilibatkan, itu kendala industri jamu kita," ungkap Charles.

Saat ini Kementerian Riset dan Teknologi menggandeng GP Jamu untuk membantu para peneliti memasarkan produk mereka. Charles mengaku senang karena para pengusaha tak perlu keluar biaya tambahan untuk penelitian produk sendiri. Ke depan mereka cukup membantu memasarkan atau mematenkan produk obat herbal dalam negeri.

"Saya tinggal cari produk yang sesuai kebutuhan saya, dan ini sudah dijamin Kemenristek," katanya.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta berjanji akan terus mengembangkan skema dengan menggandeng pengusaha untuk membiayai atau memasarkan hasil penelitian pusat studi. Sebab, hal ini dapat menggenjot penciptaan paten.

Selama ini penelitian di Tanah Air kerap terkendala dana. "Kita ini saling membutuhkan. penting untuk memperbanyak paten-paten temuan ilmiah kita. Dari segi benefit ekonomi ini dari hulu sampai hilir diproduksi dalam negeri," kata Hatta.

Industri jamu atau obat herbal di Tanah Air tahun lalu mencapai penjualan Rp 13 triliun. Penjualan itu baru dari pasar domestik saja.

(mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami