Pengamat Bantah Tiket Pesawat Mahal Biang Kerok Pariwisata Lesu

UANG | 15 Juni 2019 14:30 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Mahalnya tiket pesawat dituding sebagai dalang lesunya sektor pariwisata di Tanah Air. Jumlah wisatawan dan okupansi atau tingkat hunian hotel yang menurun dianggap sebagai dampak mahalnya tarif transportasi udara.

Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menilai menurunnya kinerja sektor pariwisata tidak sepenuhnya menjadi kesalahan maskapai yang menaikkan harga tiketnya. Ada hal lain yang juga turut mendorong anjloknya jumlah wisatawan dan okupansi hotel.

"Hotel mengeluh, turis mengeluh. Itu karena tidak bisa mengurusnya. Kita sudah 5.0, mereka masih 1.0. Kenapa pariwisata kurang? Ya itu karena Menteri Pariwisata tidak bisa mengurus sektor pariwisata kan. Jangan salahkan airline," kata dia dalam sebuah acara diskusi di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/6).

Dia menyebutkan saat ini kemajuan teknologi kian pesat. Hotel atau penginapan harus mengikutinya, sebab, masyarakat zaman sekarang lebih senang memesan hotel dengan cara praktis melalui aplikasi online travel agent (OTA).

Menurutnya, pengelola hotel masih banyak yang ketinggalan zaman. Di saat mayoritas turis memesan hotel dan penginapan melalui OTA, mereka masih menjalankan bisnisnya secara manual. Sementara, jumlah hotel itu sendiri semakin banyak.

Selain itu, dia mengungkapkan masih banyak infrastruktur penunjang pariwisata yang belum menunjang sehingga harus dilakukan perbaikan. Misalnya jalan untuk masuk menuju lokasi wisata.

Dalam kesempatan serupa, Pengamat Penerbangan, Chappy Hakim mengatakan lesunya industri pariwisata saat ini memang berkaitan dengan mahalnya tiket pesawat. Namun, andilnya tidak besar.

"Ada hubungannya tapi tidak bisa dikatakan hubungannya menjadi gara-gara turunnya jumlah penumpang bikin inflasi naik dan hotel turun," ujarnya.

Jika pariwisata menurun, disarankan agar mencari strategi lain untuk menggaet wisatawan. Kenaikan tarif tiket pesawat tidak dapat dihindari karena baik avtur maupun biaya operasi lainnya yang juga terus naik. Sehingga, maskapai harus melakukan penyesuaian harga tiket agar tetap bisa beroperasi.

"Dilihat lagi tiket mahal itu karena dia berhadapan dengan harga avtur naik yang relatif bersamaan dengan kurs dolar AS yang naik. Bukan semata karena turunnya jumlah penumpang yang gunakan pesawat," ujarnya.

Kedua hal tersebut membuat maskapai mau tidak mau menaikkan tarif tiketnya agar tidak bangkrut. Oleh karenanya, seharusnya turis bisa menyesuaikan diri dengan menggunakan moda transportasi lain yang tarifnya lebih terjangkau.

"Karena tiket pesawat kan mahal tapi mahalnya buat bayar kecepatan, kalau ke Bandung pakai jalur darat membutuhkan waktu 6 jam untuk sampai, kalau pesawat jadi setengah jam," tutupnya.

Baca juga:
Sampai 16 Juni, Beli Tiket Pesawat Thai Lion Air Diskon Hingga 50 Persen
Penumpang Domestik Turun Drastis, Adi Soemarmo Buka Jalur Penerbangan ke China
Kemenhub: Belum Ada Maskapai Asing Ajukan Izin Masuk Indonesia
Kemenhub Catat Pemudik Angkutan Umum Lebaran 2019 Turun, Terbesar dari Pesawat
Kemenhub Klaim Harga Tiket Pesawat Selama Libur Lebaran Turun 16 Persen
Maskapai Asing Dikhawatirkan Turunkan Industri Penerbangan RI
Tiket Pesawat Mahal, Penumpang Bandara I Gusti Ngurah Rai Turun 5 Persen di Lebaran

(mdk/bim)