Pengusaha Ritel Berpotensi Rugi Rp 200 Triliun Akibat Corona

Pengusaha Ritel Berpotensi Rugi Rp 200 Triliun Akibat Corona
UANG | 28 September 2020 15:04 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan, kerugian akibat pandemi corona bisa mencapai Rp 200 triliun. Hal ini dipicu berkurangnya kunjungan ke pusat perbelanjaan karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Kalau angka, kami itu setahun sekitar Rp 400 triliun. Walaupun hanya 50 persen, omzetnya turun Rp 200 triliun. Tapi kan biayanya tidak bisa utuh," kata Budi dalam jumpa pers, Senin (28/9).

Menurutnya, saat masa transisi PSBB di periode Juni-Agustus 2020, pengusaha ritel mulai mendapat omzetnya karena pusat perbelanjaan sudah boleh buka meski dibatasi pengunjungnya 50 persen. Namun, ketika PSBB Jakarta diperketat kembali, para pengusaha kembali terpuruk.

"Di bulan Juni-Agustus kita mulai pengembalian omzet, pencicilan terhadap semua pemasok juga kami menyetor, kami harapkan ke depan bisa jadi lebih baik. Tapi pada bulan September di Jakarta yang merupakan 50 persen kekuatan ekonomi ritel di pusat belanja, harus menghadapi adanya PSBB jilid II. Restoran-restoran tidak bisa dine in atau makan di tempat. Itu juga berpengaruh sangat besar ke tenant lain, karena masyarakat biasanya pergi ke mall untuk makan di restoran dan cafe," ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (DPP APPBI), Alphonzus Widjaja menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang membuat pengunjung mall menurun.

“Pertama adalah karena Covid-19 itu sendiri. Jadi banyak pengunjung yang masih takut dan hati-hati terhadap penyebaran virus tersebut. Kedua adalah daya beli masyarakat yang sangat merosot tajam. Dua hal inilah yang menjadi penyebab tingkat kunjungan turun," katanya

Dia menambahkan, restoran dan cafe menjadi destinasi utama pengunjung di pusat perbelanjaan. Namun, dengan diberlakukannya PSBB kembali, restoran dan cafe menjadi sepi karena tidak semuanya bisa dilayani dengan take away.

Dengan begitu, banyak pengusaha restoran dan cafe yang tutup sementara, karena jika dipaksakan, biaya pendapatan tidak bisa menutupi biaya operasional. Sebagian dari mereka juga dirumahkan karena tidak memiliki pemasukan untuk membayar karyawan.

Reporter Magang : Brigitta Belia (mdk/azz)

Baca juga:
PSBB Ketat Kembali Diterapkan, Pengunjung Pusat Perbelanjaan Turun 50 Persen
PSBB Jakarta Jilid II Bikin Kunjungan Pusat Perbelanjaan Naik
Burger King Luncurkan Produk Baru Bebas Pewarna Buatan dan Penyedap Rasa
Kunjungan Mal Meningkat 61 Persen Selama Kenormalan Baru, Terbanyak Pekerja Kantoran
PSBB Jakarta, Aprindo Minta Mal dan Retail Bisa Beroperasi
Daftar Produk Paling Dicari dan Dijauhi Konsumen Indonesia Selama Pandemi Corona

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami