Penjelasan Istilah BPA Free, Label Bakal Disematkan ke Air Kemasan

Penjelasan Istilah BPA Free, Label Bakal Disematkan ke Air Kemasan
Galon Guna Ulang Aman, Jangan Percaya Hoaks Bahaya BPA. ©2021 Merdeka.com
EKONOMI | 2 Desember 2021 14:32 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berencana melakukan perubahan kedua atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Salah satu yang menjadi sorotan dalam aturan ini adalah adanya kewajiban labelisasi bebas BPA (BPA free).

Lalu, apa itu BPA?

Mengutip laman POM.go.id, Bisfenol A (BPA) adalah senyawa kimia pembentuk plastik jenis galon air minum atau Polikarbornat (PC). BPA berbahaya bagi kesehatan apabila tidak sengaja dikonsumsi melebihi batas maksimal yang dapat ditoleransi oleh tubuh.

Ahli Teknologi Pangan Dedi Fardiaz mengatakan, batas migrasi maksimal BPA dalam tubuh adalah sebesar 0,6 bagian per juta (bpj, mg/kg). Hal tersebut sesuai ketentuan dalam Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan.

"Di sana semua jelas sekali dipaparkan," ujarnya, Jakarta, Kamis (2/12).

Dedi mengatakan, label bebas dari zat kontak pangan itu tidak hanya berlaku untuk kemasan berbahan PC yang mengandung BPA saja. Tetapi juga produk lainnya seperti melamin perlengkapan makan dan minum.

Khusus terkait BPA, Dedi mengatakan, BPOM telah menetapkan satuan untuk keamanan pangannya sama dengan yang lain yang disebut TDI (Tolerable Daily Intake). Untuk itu, dia menekankan, jangan sampai rancangan aturan baru nantinya, bersifat diskriminatif.

Dia meminta, sebelum aturan dikeluarkan harus dilakukan kajian Regulatory Impact Assessment (RIA) yang mengakomodasi semua stakeholder. Termasuk di dalamnya analisis mendalam terhadap dampak ekonomi dan sosial yang disebabkan.

Pada pertengahan tahun ini, BPOM juga telah melakukan pengujian terhadap migrasi BPA terhadap Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) berbahan PC. BPOM menemukan bahwa, hasilnya rendah sekali dibandingkan dengan persyaratan kandungan dalam airnya.

"Setelah dihitung ternyata paparannya itu jauh sekali di bawah itu. Artinya relatif aman," paparnya.

2 dari 2 halaman

Perlukah Air Kemasan Dilabeli BPA Free?

kemasan dilabeli bpa free

Pakar Kimia ITB, Ahmad Zainal, juga menyampaikan pelabelan bebas BPA terhadap kemasan pangan berbahan PC itu secara scientific sebenarnya tidak perlu dilakukan karena sudah ada jaminan dari BPOM sendiri dan Kemenperin bahwa produk-produk air kemasan galon aman untuk digunakan.

Berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan BPOM juga sudah terbukti bahwa migrasi BPA dalam galon itu masih dalam batas aman atau jauh di bawah ambang batas aman yang sudah ditetapkan BPOM.

"Produk-produk itu juga sudah berlabel SNI dan ada nomor HS-nya yang menandakan bahwa produk itu aman. Bahkan, kata Zainal, Kemnekominfo juga sudah menyatakan bahwa isu BPA berbahaya galon itu hoaks," jelasnya.

Hal senada juga diutarakan Anggota Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI), Hermawan Seftiono. Menurutnya, semua produk pangan yang sudah memiliki izin edar itu sebenarnya sudah memiliki label pada kemasannya.

Label itu sudah menunjukkan semua informasi dari produk pangan tersebut, seperti komposisi produk pangan, nama produknya, tempat produksinya, dan tanggal kadaluarsanya.

"Semua produk yang sudah diedarkan itu sebenarnya sudah memiliki label dan sudah teruji keamanan pangannya, termasuk produk air minum dalam kemasan. Jadi, menurut saya sebenarnya tidak perlu lagi pelabelan lainnya," katanya.

Ahli Teknologi Pangan Dedi Fardiaz menyarankan, uji laboratorium BPA free bukan hanya kemasan pangan berbahan PC saja, tetapi semua jenis kemasan pangan yang mengandung unsur zat kontak pangan seperti yang diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019. Kemudian, laboratorium yang mengujinya juga harus laboratorium yang terakreditasi bukan laboratorium pemerintah saja.

"Tujuan label adalah menginformasikan dari produsen kepada konsumen apa yang terdapat di dalam, bukan apa yang tidak ada. Tujuan kita mengatur standar keamanan pangan itu selain untuk melindungi kesehatan konsumen juga memfasiltasi perdagangan yang adil dan jujur," katanya.

(mdk/bim)

Baca juga:
BPOM: Uji Klinik Vaksin Merah Putih Memasuki Finalisasi
BPOM: Dalam Waktu Dekat Vaksin Merah Putih Mulai Uji Klinik
Perkuat Sinergitas, Anggota Polri akan Jadi Pejabat di BPOM
BPOM Ungkap Pengajuan Uji Praklinik dan Uji Klinik di Tengah Pandemi Covid-19 Naik
BBPOM Temukan Pegawai Apotek di Palembang Tak Paham Obat-obatan
BPOM Izinkan Sinovac untuk Anak Usia 6-11 Tahun, IDAI Minta Orangtua Tak Ragu
BPOM: Frozen Food Masa Kedaluwarsa Lebih dari Sepekan Wajib Punya Izin Edar

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami