Penyerapan pasar konstruksi tahun ini tak akan maksimal

UANG | 25 September 2013 15:13 Reporter : Novita Intan Sari

Merdeka.com - Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJK) mengungkapkan, sektor konstruksi mengalami tiga kali guncangan pada tahun ini. Yakni melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan upah minimum provinsi (UMP) dan kenaikan harga BBM. Kondisi ini memungkinkan penyerapan pasar konstruksi tidak bakal tercapai.

"Hingga saat ini penyerapan baru hanya 60-70 persen dari Rp 400 triliun yang dianggarkan pemerintah. Hingga akhir tahun, kami tidak yakin ya palingan hanya naik 10 persen," ujar Ketua LPJKN, Tri Widjayanto saat konferensi pers di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu (25/9).

Tri mencontohkan, untuk aspal, kebutuhan dalam negeri dalam satu tahun mencapai 1,6 juta ton. Sedangkan yang bisa dipenuhi dari pasokan dalam negeri hanyalah 700.000-800.000 ton. Otomatis hal ini membuat Indonesia harus mengimpor.

Terpuruknya mata uang Rupiah semakin memberatkan sektor jasa konstruksi karena sebelumnya pemerintah juga menaikkan UMR sebesar 40 persen untuk wilayah Jakarta ditambah dengan kenaikan BBM senilai 40-50 persen.

"Angka ini tentunya mendongkrak semua ongkos produksi seperti tenaga kerja dan juga masalah transportasi," ungkap dia. (mdk/noe)

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.