Per Desember 2019, Utang Pemerintah Capai Rp4.779 Triliun

Per Desember 2019, Utang Pemerintah Capai Rp4.779 Triliun
UANG | 7 Februari 2020 12:09 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah per akhir Desember 2019 berada di angka Rp4.779,28 triliun, dengan rasio utang pemerintah terhadap PDB menjadi 29,8 persen. Jumlah total utang tersebut naik signifikan apabila dibandingkan dengan posisi yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp4.418,30 triliun.

Realisasi sementara Pembiayaan Utang hingga akhir Desember 2019 mencapai Rp435,4 triliun atau 121,20 persen target APBN yang terdiri dari realisasi Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp446,3 triliun atau 114,74 persen target APBN dan realisasi Pinjaman sebesar negatif Rp17,19 triliun atau 57,88 persen target APBN.

"Di tengah kondisi perekonomian global yang mengalami tekanan dan berdampak pada penerimaan perpajakan, APBN berfungsi sebagai countercyclical yang memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi," demikian dikutip dari Laman Kemenkeu.go.id, Jakarta, Jumat (7/2).

Untuk menjaga kesinambungan fiskal dan kredibilitas APBN, Pemerintah mengantisipasi pelebaran defisit yang diperkirakan mencapai 2,20 persen terhadap PDB. Dengan adanya antisipasi tersebut, pembiayaan anggaran realisasinya melampaui target yang ditetapkan oleh APBN 2019.

Hingga akhir 2019, realisasi pembiayaan anggaran sudah mencapai 134,9 persen dari target APBN sebagai bagian dari upaya mengantisipasi tersebut, di mana realisasi sementara defisit APBN tahun 2019 mencapai Rp353,0 triliun.

Meskipun begitu, hal tersebut dilakukan dengan memperhitungkan semua risiko yang akan dihadapi. Kondisi ekonomi dunia yang tidak kondusif selama tahun 2018-2019 berimbas pada pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga target penerimaan negara mengalami tekanan.

Dengan menggunakan APBN sebagai alat countercyclical untuk menghadapi stagnasi pertumbuhan ekonomi dunia, Pemerintah mengintensifkan belanja negara sehingga terdapat pelebaran defisit yang selanjutnya ditutup melalui pembiayaan yaitu melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) serta melalui pinjaman.

Hingga saat ini pinjaman (neto) masih berada pada angka negatif Rp17,19 triliun dengan komposisi Rp2,80 triliun berasal dari pinjaman dalam negeri dan negatif Rp13,70 triliun berasal dari pinjaman luar negeri. "Pinjaman luar negeri Pemerintah berada pada angka negatif dapat diartikan bahwa bunga cicilan (utang) yang dibayarkan lebih besar dibandingkan pinjaman."

1 dari 1 halaman

Fitch Kembali Ganjar Indonesia Predikat Laik Investasi

ganjar indonesia predikat laik investasi rev1

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) mengafirmasi peringkat surat utang atau sovereign credit rating Indonesia pada level BBB/outlook stabil (Investment Grade) pada 24 Januari 2020. Fitch sebelumnya telah mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB/stable outlook pada 14 Maret 2019.

Fitch memprakirakan defisit fiskal akan tetap stabil pada 2020. Utang pemerintah diprakirakan tetap rendah yaitu 30,1 persen PDB pada 2019.

Fitch memprakirakan rasio utang terhadap PDB hanya akan sedikit meningkat pada beberapa tahun mendatang, dengan asumsi pemerintah tetap mematuhi batasan fiskal defisit 3 persen PDB.

(mdk/bim)

Baca juga:
Jaga Stabilitas Ekonomi, Bank Indonesia Siap Beli Surat Utang Rp274,4 Triliun
Milenial Mulai Buru Instrumen Investasi Bond Ritel Pemerintah
Fitch Kembali Ganjar Indonesia Predikat Laik Investasi
Atasi Utang Garuda Indonesia, Irfan Upayakan Restrukturisasi dan Tarik Pinjaman Baru
SMI Beri Utang Pemda Hingga 2019 Rp4,6 Triliun
Kantor Pemerintahan di Ibu Kota Baru Bebas dari Utang Asing
Bos OJK Soal Kredit Bank 2019 Tumbuh 6 Persen: Korporasi Lebih Pilih Utang Asing

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami