Perang Dagang AS-China Memanas, Indonesia Didorong Cari Pasar Ekspor Baru

UANG | 17 Mei 2019 19:14 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Wakil Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta menyebut bahwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China akan berimbas pada pertumbuhan ekspor Indonesia. Sebab, ketegangan dari kedua negara itu berpotensi menghambat ekspor di 2019.

Arif mengatakan, untuk mencegah terjadinya perlambatan terhadap pertumbuhan ekspor, maka salah satu upayanya adalah dengan memperluas pasar baru. Sebab selama ini, kedua negara tersebut tersebut masih menjadi pasar potensial bagi Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pangsa ekspor Indonesian ke China mencapai sebesar 14,85 persen dengan total nilai USD 7,27 miliar. Sementara pangsa ekspor Indonesia ke AS sendiri sebesar 11,32 persen, dengan total nilai mencapai USD 5,54 miliar.

"Pemerintah harus fokus membuka pasar ekspor baru. Negara-negara Afrika bisa menjadi potensial ekspor Indonesia," kata Arif dalam acara press briefing di Jakarta, Jumat (17/5).

Arif menuturkan, dalam upaya perluasan pasar baru ini, pemerintah perlu memperhatikan secara seksama. Artinya tidak sembarangan dalam mendekati negara-negara asal tujuan ekspor. Terlebih, harus memiliki jumlah populasi yang besar.

"Terhadap pasar pasar baru tidak semua negara juga kita dekati, tapi secara komposisi penduduk banyak misal Nigeria, 190 juta, Afrika Selatan, Mesir 100 juta penduduk kalau kita ekspor dagang ke penduduk yang sampai 4 juta agak kurang, harus masuk ke populasi besar" jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pengaruh dari perang dagang ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia sendiri akan tetapi berimbas kepada negara-negara di dunia.

"Jelas trade akan slowing down sangat signifikan. Kemarin aja pertumbuhan 4 persen global trade sudah dianggap sangat rendah," bebernya.

Dengan kondisi itu, maka akan mempengaruhi pada negara Indonesia yang masih bergantung pada neraca perdagangan ekspor.

"Ini berarti kita tidak mungkin andalkan ekspor sebagai engine of growth. Tapi positifnya ada banyak barang-barang yang tadinya untuk topang industri kita menjadi tersedia," pungkasnya.

Baca juga:
Dana Asing Kabur dari RI Akibat Perang Dagang Capai Rp11,3 Triliun
Pengusaha Batubara RI Jalin Kerjasama Antisipasi Kebijakan China
Pertumbuhan Ekonomi Meleset dari Target, BI Sebut Dampak Perang Dagang
Menko Darmin: Dorong Ekspor Makin Tak Mudah Setelah Perang Dagang Meningkat
Perang Dagang Menegang, Dana Asing Lari dari RI
Perang Dagang AS-China Memanas, BI Revisi Perkiraan Defisit Transaksi Berjalan

(mdk/idr)