Percepatan Kebijakan Biodiesel Dikhawatirkan Berdampak Pada Kerusakan Lahan

Percepatan Kebijakan Biodiesel Dikhawatirkan Berdampak Pada Kerusakan Lahan
Kelapa Sawit. ©2017 Merdeka.com
UANG | 28 Februari 2021 19:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pemerintah Jokowi semakin agresif dalam menerapkan kebijakan biodiesel di Indonesia. Hal itu terlihat dari target bauran Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dalam biodiesel sebesar 20 persen (B20) untuk tahun 2025.

Kemudian target tersebut diperbaharui menjadi Peraturan Menteri (Permen) ESDM No 12 Tahun 2015 menjadi B30 yang telah diimplementasikan pada awal tahun 2020, dan akan diberlakukan hingga tahun 2025. Kebijakan ini rencananya akan terus dipercepat.

Menanggapi hal tersebut, juru kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arkian Suryadarma mengatakan, percepatan kebijakan tersebut akan berdampak pada alokasi lahan. Di mana untuk memproduksi CPO yang banyak tentunya diperlukan lahan yang luas.

"Dengan adanya tambahan kebutuhan untuk biodiesel akan adanya risiko kenaikan potensi deforestasi lebih besar untuk memenuhi kebutuhan CPO untuk produksi biodiesel," kata Arkian dalam Ngopi Chapter 1: Dilema Kebijakan Biodiesel, Minggu (28/2).

Sehingga dilihat dari defisit CPO jika blendingnya B30 maka Pemerintah Indonesia memerlukan penambahan lahan sebanyak 5,2 juta hektare. Sedangkan untuk blending B50 dibutuhkan lahan seluas 9,2 juta hektare untuk produksi CPO.

Lebih lanjut Arkian menjelaskan, dilihat data dari Kementan luas lahan perkebunan sawit Indonesia sekitar 16 juta hektar. Kemudian untuk mempercepat kebijakan biodiesel, maka akan menyebabkan ekspansi lahan yang luas.

"Kalau dilihat penambahannya 9 juta atau nanti B100 kebutuhan tanahnya akan menambah, maka konversi lahannya akan besar-besaran. Bukan hanya dari Kalimantan atau Sumatera yang sudah banyak perkebunan sawit, tetapi ini akan menggeser ke daerah-daerah baru seperti Papua," ujarnya.

Dengan begitu, Greenpeace Indonesia menilai hutan primer di Papua yang akan digunakan untuk perluasan lahan biodiesel tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan masalah-masalah baru, seperti masalah dengan masyarakat adat di Papua, dan lainnya.

Selain itu yang dikhawatirkan lainnya terkait ketahanan pangan. Menurutnya dengan adanya kenaikan pressure dari biodiesel akan lebih banyak lahan yang tadinya untuk pangan menjadi perkebunan minyak sawit. "Lahan-lahan yang bagus untuk perkebunan pangan itu di convert jadi perkebunan sawit," pungkasnya.

Baca Selanjutnya: Butuh Komitmen Pemerintah...

Halaman

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami