Percetakan Uang Kertas dan Logam Masih Tinggi di Era Transaksi Digital

Percetakan Uang Kertas dan Logam Masih Tinggi di Era Transaksi Digital
UANG » MAKASSAR | 8 Januari 2020 13:57 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Direktur Pengembangan Usaha Perum Peruri Fajar Rizki menyatakan, di era digital saat ini, pertumbuhan percetakan uang kertas dan logam masih tinggi. Hal ini diungkapkannya dalam pemaparan di acara Ngopi BUMN.

"Kemarin bu Dirut (Direktur Utama Perum Peruri Dwina Septiani Wijaya) pulang dari Jerman, share hasil seminar ke kita uang kertas maupun logam masih tumbuh 2-3 persen," ujar Fajar di Kementerian BUMN, Rabu (8/1).

Hal ini merupakan wujud pertumbuhan bisnis Perum Peruri di tengah gempuran transaksi digital. Hingga saat ini, 60 hingga 70 persen percetakan uang kertas didominasi dari permintaan uang kartal domestik.

Fajar menambahkan, permintaan uang kartal domestik masih tinggi karena Indonesia merupakan negara kepulauan, di mana akses teknologinya belum tersebar merata sehingga beberapa daerah tentu masih menggunakan uang kertas untuk bertransaksi.

"Memang kalau untuk kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar dan Medan cashlessnya sudah jalan. Tapi di daerah yang jauh dari perkotaan tentu masih membutuhkan uang fisik," papar Fajar.

Sementara, percetakan uang yang dilakukan Perum Peruri juga merupakan penugasan dari Bank Indonesia. Setiap dua tahun, BI menugaskan Perum Peruri untuk mencetak sekitar 8 milyar bilyet (lembar uang).

1 dari 1 halaman

Terancam Hilang

International Monetary Fund (IMF), dalam studi terbarunya, menemukan potensi hilangnya uang tunai dengan produk digital (cryptocurrency) di masa depan. Salah satu yang terimbas ada pada dana simpanan di bank.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tobias Adrian dan Tommaso Mancini-Griffoli ini dirangkum dalam dokumen The Fintech Note berjudul The Rise of Digital Money dan dipublikasikan Senin lalu.

Isinya, memperlihatkan betapa ketatnya persaingan perusahaan teknologi dengan perbankan dan perusahaan kartu kredit.

Dikutip dari Coindesk, Rabu (17/7), sang penulis menyebutkan format uang digital semakin diminati oleh konsumen dan pembuat kebijakan. "Uang konvensional bersaing ketat dengan uang elektronik, di mana uang tunai bisa disimpan dalam uang digital ini dengan nilai kurs yang disesuaikan," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Demi menjaga eksistensi, perbankan disarankan untuk berinovasi dan menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki uang elektronik dan uang digital.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6.com (mdk/azz)

Baca juga:
Mengunjungi Pabrik Pemotongan Kertas di Riau
Studi IMF: Uang Digital Datang, Uang Tunai Terancam Hilang
Strategi BI Jaga Nasib Uang Kertas di Tengah Perkembangan Pembayaran Nontunai
Tepis Hoaks Palu Arit di Uang Rupiah, Misbakhun Ajak BI Masuk Kampus
Penukaran Uang Tahun Emisi Lama di Surakarta Tembus Rp 574 Juta
BI Siapkan Uang Tunai Rp 101,1 Triliun Sambut Natal dan Tahun Baru 2019

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami