Pernah Hidup Susah, Miliarder ini Akan Wariskan 90 Persen Kekayaan untuk Orang Miskin

Pernah Hidup Susah, Miliarder ini Akan Wariskan 90 Persen Kekayaan untuk Orang Miskin
Ilustrasi orang kaya. ©shutterstock.com/Minerva Studio
EKONOMI | 3 Desember 2021 06:30 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - CEO perusahaan teknologi periklanan, The Trade Desk, berjanji memberikan 90 persen kekayaannya untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. Menurut Forbes, CEO The Trade Desk yang bernama Jeff T Green (44 tahun) diperkirakan memiliki kekayaan sebesar USD 6 miliar dan saat ini merupakan orang terkaya ke-253 di dunia.

Dikutip dari laman Newsweek, Rabu (1/12) Green mengaku telah menandatangani untuk berpartisipasi dalam inisiatif The Giving Pledge, yang juga telah ditandatangani oleh ratusan miliarder.

Inisiatif The Giving Pledge, dibuat oleh miliarder terkenal dunia yaitu Warren Buffet, serta Bill dan Melinda Gates. "Saya akan memberikan sebagian besar kekayaan saya melalui filantropi berbasis data," ujar Green.

"Target pemberian kekayaan saya adalah lebih dari 90 persen. Tetapi saya juga akan memberikan waktu, dan komoditas saya yang paling berharga, mengalokasikan dana itu dengan sengaja, dan untuk terlibat secara pribadi," jelasnya.

Dia pun menguraikan mimpinya untuk membuat fasilitas pendidikan yang lebih mudah diakses oleh semua orang. "Pendidikan memberi kita semua lebih banyak kesempatan, dan warga negara yang berpendidikan sangat penting untuk kesuksesan masyarakat," ujar Green.

"Dalam beberapa hal, di sebagian besar negara barat, saya pikir kita telah melupakan peran mendasar yang dimainkan pendidikan dalam menciptakan peluang, dan meningkatkan peluang, untuk semua orang," tambahnya.

2 dari 2 halaman

Pernah Hidup Susah Sewaktu Muda

susah sewaktu muda

Dalam suratnya, Green juga menceritakan bahwa dia pernah mengalami masalah ekonomi. "Seperti banyak orang, saya tumbuh dengan kehawatiran tentang ekonomi. Di usia muda saya ingat menunggu dalam antrean dengan ibu saya untuk distribusi makanan pemerintah," ungkap miliarder yang merupakan lulusan Universitas Brigham itu.

"Sampai dewasa, saya terus-menerus khawatir apakah bisa memiliki cukup uang untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi itu sebenarnya tidak pernah benar-benar tentang uang itu sendiri. Melainkan tentang tentang apa yang bisa dilakukan uang," jelasnya.

Green menambahkan, uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tetapi uang dapat memberdayakan kita untuk mengubah hampir semua hal jika digunakan oleh orang yang tepat pada waktu yang tepat.

Green melanjutkan dia akan berinvestasi dalam bisnis, komunitas, dan individu, melalui bagian amal dari yayasan keluarganya yang disebut Dataphilanthropy, menggunakan waktu dan uang untuk memungkinkan kesuksesan.

"Filantropi saya bukan tentang politik atau pemberian—ini tentang mendapatkan hasil terbaik untuk semua bakat dan potensial, yang hanya dapat bermanfaat bagi bangsa kita, dan umat manusia. Ini akan membantu orang melangkah ke peluang, bukan berbaring," tuturnya.

Reporter: Natasha Khairunisa Amani
Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Baca juga:
Kisah Sukses Thomas Tull, Pekerja Serabutan yang Kini Punya Harta Rp42 Triliun
Miliarder India Ini Habiskan Rp3,7 Miliar Bangun Replika Taj Mahal
Potret Rumah Bekas Tragedi Penembakan, Perabot Berkualitas Masih Lengkap Terbengkalai
Perempuan Muda ini Raih Rp 10 Miliar Berkat Suntik Vaksin Covid-19
Orang Super Kaya Penyebab Krisis Iklim, Orang Miskin Menanggung Akibatnya
Kesalahan yang Sampai Sebabkan 3 Orang Terkaya ini Kehilangan Seluruh Harta
Fakta CEO Apple Tim Cook, Tinggal di Rumah Sederhana dan Lebih Pilih Beli Baju Diskon

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami