Persaingan panas GO-JEK vs GrabBike, berujung sentimen RI-Malaysia

UANG | 7 Agustus 2015 07:06 Reporter : Henny Rachma Sari

Merdeka.com - Dewasa ini layanan transportasi jasa berbasis teknologi, seperti GO-JEK, GrabBike, Uber Taxi, dan lainnya, tengah menjadi primadona publik. Semakin banyak driver berjaket hijau-hitam berseliweran membelah jalanan ibu kota. Bahkan, ada yang sudah melebarkan sayap ke daerah lain.

Persaingan bisnis di antara mereka pun semakin memanas. Mulai dari perang harga yang berujung pada sentimen kenegaraan. CEO PT. GO-JEK Indonesia Nadiem Makarim tidak mau ambil pusing atas persaingan bisnis dengan kompetitornya.

"Untuk apa takut tersaingi atau apapun itu," ujar Nadiem kepada wartawan di Kantornya, Jakarta Selatan, Kamis (6/8).

Bergerak di jenis bisnis serupa, GrabBike dan GO-JEK saat ini tengah bersaing merebut pasar Indonesia. Dengan modal USD 137 juta atau setara Rp 1,8 triliun, GrabTaxi dan GrabBike siap menginvasi Indonesia. Total investasi USD 340 juta atau setara Rp 4,54 triliun untuk enam negara termasuk Indonesia.

Inovasi dan kualitas pelayanan nanti akan menjadi kunci dalam merebut hati konsumen. Kepala Pemasaran GrabTaxi, Kiki Rizki, menyebut kehadiran perusahaan aplikasi seperti GrabBike dan GO-JEK bukan untuk mengibarkan bendera persaingan. Melainkan, untuk memberikan pilihan baru dalam industri transportasi kepada masyarakat.

"Kita tidak bisa memaksa orang untuk memilih kita. Biarkan publik yang memilih layanan paling aman dan nyaman. Sekali lagi kita tidak memaksa. Dengan persaingan ini kan bakal timbul inovasi-inovasi baru nantinya yang akan membuat masyarakat merasa nyaman dan terlayani," ujar dia kepada merdeka.com di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kenyataannya, persaingan bisnis mereka semakin panas berebut pasar dalam negeri. CEO GO-JEK Nadiem tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada pesaingnya. Merdeka.com memberi gambaran panasnya persaingan di bisnis antar jemput ojek tersebut. Berikut paparannya.

1 dari 5 halaman