Pertamina EP Catat Tren Pendapatan Positif di Tengah Rendahnya Harga Minyak Dunia

Pertamina EP Catat Tren Pendapatan Positif di Tengah Rendahnya Harga Minyak Dunia
UANG | 11 Maret 2020 15:37 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Anak usaha PT Pertamina, PT Pertamina EP mencatatkan pendapatan positif sepanjang tiga tahun terakhir. Realisasi kinerja operasional dan keuangan menunjukkan tren meningkat di tengah rendahnya harga minyak mentah.

Selama 2017-2019, Pertamina EP membukukan pendapatan berturut-turut USD 2,77 miliar, USD 3,16 miliar dan sebesar USD 3,03 miliar pada tahun lalu. Jika ditotal selama periode tiga tahun tersebut, pendapatan perseroan mencapai USD 8,96 miliar. Dengan rata-rata kurs Rupiah terhadap USD sebesar Rp13.925 dalam tiga tahun terakhir, total pendapatan perusahaan selama tiga tahun adalah Rp124,82 triliun.

"Di tengah harga yang masih cenderung stabil pada level yang rendah, peningkatan tersebut mencerminkan terdapat peningkatan kinerja operasional (produksi)," ujar Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro dikutip dari Antara di Jakarta, Rabu (11/3).

Perusahaan juga tercatat memberi kontribusi laba bersih (net income) positif ke induk usaha, yaitu sebesar total USD 2,02 miliar atau sekitar Rp28,24 triliun sepanjang tiga tahun terakhir. Raihan laba bersih Pertamina EP tersebut berasal dari perolehan laba bersih tahun 2017 sebesar USD 615 juta, tahun 2018 senilai USD 756 juta, dan 2019 yang mencapai USD 654 juta.

Manajemen Pertamina EP sebelumnya merilis kinerja produksi minyak yang terus naik dalam tiga tahun terakhir. Pada 2017, produksi minyak mencapai 77.154 barel per hari (BOPD), naik lagi menjadi 79.445 BOPD pada 2018, dan 2019 menjadi 82.213 BOPD. Sedangkan produksi gas tercatat 1.018 MMSCFD pada 2017, sebesar 1.017 MMSCFD pada 2018, dan 959 MMSCFD pada 2019.

Menurut Komaidi, peningkatan produksi tidak terlepas dari sejumlah upaya manajemen PEP di bawah kepemimpinan Presiden Direktur Nanang Abdul Manaf yang melakukan efisiensi disertai kerja keras pekerja PEP.

Dia juga menilai kinerja positif perusahaan pada 2017-2019 tak bisa dibandingkan dengan kinerja beberapa tahun sebelumnya, misalnya pada 2012. Saat itu pendapatan perusahaan mencapai USD 5,32 miliar dan laba bersih USD 1,95 miliar. "Saat itu, harga minyak global jauh lebih tinggi dibandingkan harga dalam lima tahun terakhir," katanya.

1 dari 1 halaman

Tahun Penuh Tantangan

tantangan

Komaidi menambahkan tahun ini menjadi tantangan bagi semua perusahaan migas. Tren harga minyak yang rendah seperti saat ini secara langsung akan menurunkan pendapatan dan laba perusahaan. Peningkatan produksi dan efisiensi dalam sisi biaya, perlu dilakukan agar kinerja keuangan PEP tidak turun terlalu dalam.

"Kondisi lapangan yang sudah mature saya kira membuat tantangan PEP menjadi semakin kompleks. Dalam menjalankan bisnis tidak hanya bicara mengenai produksi dapat ditingkatkan atau tidak. Dalam hal ini pertanyaan mendasarnya justru peningkatan produksi tersebut masih ekonomis atau tidak. Jika produksi dapat ditingkatkan tetapi dengan biaya yang jauh lebih besar dari harga minyak itu sendiri tentu keputusan peningkatan produksi tidak akan dilakukan," katanya.

Pendapat senada dinyatakan Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan. Menurut dia, ada perbedaan kondisi 2017-2019 dengan 2012. Pada 2012 produksi PEP masih cukup tinggi, yaitu berada di level 120 ribuan BOPD dan memang tingkat penurunannya (decline rate) masih belum terlalu signifikan.

"Jadi memang tidak bisa disandingkan apple to apple. Selain itu juga, periode 2012 harga ICP di atas 100 dolar AS per bopd. Jadi cukup jauh perbedaannya," ujarnya.

Mamit mengakui secara kinerja keuangan dan juga produksi, selama tiga tahun terakhir Pertamina EP bisa memenuhi target dalam Rencana Kerja dan Anggaran (WP&B) yang ditetapkan bersama SKK Migas. Apa yang dilakukan oleh PEP dalam menjaga decline rate suatu lapangan juga cukup berhasil, bahkan secara konsolidasi seluruh lapangan bisa meningkat atau incline. Hal ini mengingat dengan 5 Asset yang tersebar di seluruh Indonesia rata-rata adalah lapangan yang sudah tua (mature) dan cenderung turun secara alami.

"Kenapa selama 2017-2019 produksi PEP meningkat karena memang PEP ekspansif dalam melakukan kegiatan pengeboran, kegiatan eksplorasi dan juga pekerjaan Work Over dan Well Service," ujar Mamit.

Dia menyebutkan pada 2017, total sumur pengembangan Pertamina EP mencapai 58 sumur, naik lagi pada 2018 menjadi 92 sumur dan pada 2019 menjadi 106 sumur. Sementara itu, sumur Work Over tercatat 194 pada 2017, 175 pada 2018, dan 215 pada 2019.

Menurut Mamit, untuk menjaga produksi migas, manajemen Pertamina EP perlu upaya yang luar biasa. Dengan kondisi lapangan yang terus turun secara alami, Pertamina EP harus lebih masif lagi dalam bergerak. "Kegiatan penggunaan advance technology harus bisa dilakukan. Selain itu juga,PEP harus bisa melakukan penghematan dalam biaya operasi mereka sehingga bisa mengurangi cost per barelnya," katanya. (mdk/idr)

Baca juga:
Harga Minyak Dunia Murah, Kapan Harga BBM di Indonesia Turun?
Bank Mandiri Tak Khawatir Kualitas Kredit Terganggu Gejolak Harga Minyak Dunia
Harga Minyak Dunia Anjlok, Tiket Pesawat Bisa Lebih Murah Lagi
IHSG Anjlok, 12 BUMN Siap Buyback Saham Capai Rp8 Triliun
Menko Luhut soal Harga Minyak Anjlok: Kita Enggak Boleh Terburu-buru Ambil Kebijakan
Strategi SKK Migas Genjot Produksi saat Harga Minyak Dunia Anjlok

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5