Pertamina EP: Kembangkan Sumur Tua Butuh Insentif

Pertamina EP: Kembangkan Sumur Tua Butuh Insentif
UANG | 12 Maret 2019 18:20 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) terus mengembangkan blok migas yang mereka miliki untuk mendukung pencapaian target produksi nasional. Hal ini ditindaklanjuti dengan penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) pada beberapa struktur di wilayah kerja Pertamina EP (PEP).

Direktur Pengembangan Pertamina EP John H Simamora mengatakan, pada dasarnya pengembangan lapangan minyak akan selalu melalui 3 tahapan yaitu primary, secondary, dan tertiary. Lapangan-lapangan Pertamina EP telah melalui proses primary dan sekarang sedang menuju proses secondary dan tertiary.

Dengan nilai remaining reserves yang masih cukup besar, implementasi pattern waterflood dan EOR akan mengoptimalkan produksi minyak hingga mencapai 8.21 BSTB. Terdapat 5 proyek secondary (waterflood) yang sedang berjalan yaitu Struktur Jirak, Ramba, Tanjung, Belimbing, dan Rantau dengan total investasi sebesar USD 776 uuta.

Salah satu alternatif penambahan cadangan adalah melalui teknologi EOR. Pertamina EP telah memulai implementasi chemical EOR berupa polymer di Lapangan Tanjung karena teknologi injeksi polimer merupakan teknologi yang telah terbukti dan telah diimplentasi lebih dari 30 tahun di berbagai lapangan minyak di dunia dengan rata-rata peningkatan Recovery Factor (RF) sebesar 5-10 persen terhadap OOIP.

Berdasarkan perkiraan produksi, produksi kumulatif minyak diharapkan sebesar 245 MMSTB melalui waterflood dengan puncak produksi sebesar 60.000 bopd pada 2026 sedangkan tahap tertiary akan menghasilkan produksi kumulatif sebesar 133 MMSTB dengan puncak produksi sebesar 30.000 bopd pada tahun 2030.

"Pertamina EP mempunyai beberapa inovasi untuk mendorong produksi minyak seperti monobore, coiled tubing drilling, casing drilling, dan well log cement," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (14/3/2019).

Proses perbaikan yang telah dilakukan oleh Pertamina EP untuk meningkatkan produksi migas adalah memperbanyak identifikasi peluang penambahan cadangan dan produksi seperti memperbanyak sumur outstep, memperketat pengendalian dan jaminan kualitas, mempercepat pengembangan struktur temuan eksplorasi di Struktur Jatiasri, Bambu Besar, dan Akasia Bagus, memperkecil non-productive time (NPT) pada operasi pemboran melalui penggunaan dogleg reamer, completion strategy, fishing, real time drilling monitoring sehingga terjadi penurunan biaya pemboran sebesar 19 persen pada 2018.

"Tentunya dengan adanya insentif tertentu dapat memberikan dorongan kepada investor untuk melakukan kegiatan EOR," terangnya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa mahalnya biaya EOR menjadi salah satu pertimbangan utama bagi Perusahaan untuk penerapannya. Selain EOR, Pertamina EP juga menjalankan program lainnya untuk mengejar peningkatan produksi, John menjelaskan

"PEP terus mengusulkan proyek-proyek waterflood untuk meningkatkan produksi minyak. Rencananya, tahun ini akan diusulkan 3 proyek waterflood yaitu pada Struktur Tempino, Kenali Asam, dan Bajubang. Harapannya, Final Investment Decision didapat pada tahun ini juga. Upaya lainnya yang dilakukan oleh Pertamina EP adalah memperbanyak jumlah proyek pemboran, memperbanyak workover yang berkualitas, dan meningkatkan jumlah sumur produksi," pungkasnya. (mdk/azz)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami