Pertumbuhan Ekonomi Global di 2020 Dipangkas Lagi, Paling Lambat Sejak Krisis 2008

UANG | 22 November 2019 12:55 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) merevisi perkiraan pertumbuhan global 2020 menjadi 2,9 persen. Angka ini turun dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 3,0 persen.

Organisasi yang berbasis di Paris ini memperingatkan tentang risiko stagnasi jangka panjang, menyalahkan konflik perdagangan, investasi bisnis yang lemah, dan ketidakpastian politik yang terus-menerus.

Pertumbuhan PDB dunia diperkirakan hanya 2,9 persen tahun ini, laju paling lambat sejak krisis keuangan 2008.

Dalam laporan tersebut, tindakan berani diperlukan untuk mengatasi tingginya tingkat ketidakpastian yang dihadapi bisnis serta perubahan mendasar yang terjadi di ekonomi global.

"Ini akan menjadi kesalahan untuk mempertimbangkan perubahan ini sebagai faktor sementara yang dapat diatasi dengan kebijakan moneter atau fiskal, mereka adalah struktural. Tanpa koordinasi untuk perdagangan dan perpajakan global, arah kebijakan yang jelas untuk transisi energi, ketidakpastian akan terus membayangi besar dan merusak prospek pertumbuhan," kata Kepala Ekonom OECD, Laurence Boone ketika mempresentasikan prospek 2020 di Paris dikutip keterangannya.

1 dari 1 halaman

Pertumbuhan AS Melambat

Pertumbuhan di Amerika Serikat diperkirakan melambat menjadi 2 persen pada tahun 2020 dan 2021. Di kawasan Eropa dan Jepang, pertumbuhan diperkirakan sekitar 1 persen.

Di kawasan Eropa, dipengaruhi terutama oleh meningkatnya hambatan perdagangan karena ekonomi yang bergantung pada ekspor, pertumbuhan Jerman diproyeksikan akan berada di 0,4 persen pada tahun 2020, turun 0,2 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Mengenai Prancis dan Italia, OECD menguatkan perkiraannya untuk tahun depan masing-masing sebesar 1,2 persen dan 0,4 persen.

Pertumbuhan volume perdagangan barang dan jasa global diperkirakan telah melambat ke level terendah satu dekade menjadi satu persen tahun ini, angka OECD menunjukkan.

"Setiap peningkatan lebih lanjut dari konflik perdagangan akan mengganggu jaringan pasokan dan membebani kepercayaan, pekerjaan dan pendapatan. Ketidakpastian tentang hubungan perdagangan UE-Inggris di masa depan menimbulkan risiko lebih lanjut untuk pertumbuhan seperti halnya tingkat tinggi utang perusahaan saat ini," katanya memperingatkan. (mdk/idr)

Baca juga:
3 Alasan Konsumsi Tetap Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi RI
3 Strategi Pemerintah Hadapi Tantangan Ekonomi di 2020
Memanasnya Perang Dagang Bisa Naikkan Ekspor Batubara dan Minyak Sawit RI
Tepis Hasil Riset CORE, Airlangga Optimis Pertumbuhan Ekonomi Capai 5 Persen di 2020
Faisal Basri Ramal Ekonomi RI Hanya Tumbuh 4,9 Persen di 2020
Ekonomi RI Tumbuh 5 Persen, Sandiaga Uno Pertanyakan Kualitas Lapangan Kerja