Pertumbuhan Ekonomi Tetap 5 Persen, ini Masalah Akan Muncul di Periode II Jokowi

UANG | 20 Oktober 2019 13:30 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, menyebut ada beberapa tantangan dan pekerjaan besar di bidang ekonomi yang harus diselesaikan di tahun pertama pada Pemerintahan Joko Widodo periode II. Salah satunya adalah menggenjot laju pertumbuhan ekonomi.

Piter mengatakan di tengah perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian global yang terjadi saat ini, tentu menumbuhkan ekonomi menjadi tantangan besar bagi pemerintah.

"Tantangan yang pertama dan utama adalah memacu pertumbuhan ekonomi selama lima tahun ke depan rata-rata 7 sampai 8 persen," katanya kepada merdeka.com, Minggu (20/10).

Menurut Piter, pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen saat ini tidak akan cukup dan justru malah membawa negara ini ke persoalan besar. Mulai dari persoalan pengangguran, meningkatnya kemiskinan, hingga melebarnya jurang ketimpangan.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama beberapa tahun terakhir memang berada stagnan di kisaran 5 persen. Bahkan, pertumbuhan 7 persen yang dijanjikan oleh Presiden Jokowi saat awal menjabat tidak terealisasikan.

"Pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 sampai dengan 8 persen adalah tugas yang sangat tidak mudah dengan semua kondisi eksternal dan internal yang tidak cukup mendukung," kata Piter.

Jangan sampai, kata dia, apabila terus menerus ini dibiarkan hingga 2030, yang mestinya Indonesia mengalami puncak bonus demografi justru terjadi bencana demografi. "Tapi sesungguhnya pertumbuhan rata-rata 7 sampai 8 persen selama lima tahun ke depan bukan tidak mungkin," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Apindo, Danang Girindrawardana, mengatakan ada kegagalan Pemerintahan Jokowi-JK selama menjabat. Dia menilai, Presiden Jokowi belum bisa memenuhi janji kampanyenya yakni mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berada di 7 persen.

"Kegagalannya cuman satu saja. Belum bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi sampai 7 persen itu saja," jelas dia.

"Penyebabnya adalah dua hal. Ya oke internasional pasti mempengaruhi tapi domestik situation juga harus menjadi satu hal bener-bener terkontrol karena itu ada di dalam kewenangannya," sambung dia.

Menurutnya, hampir 70 sampai 80 persen masalah ketidaktercapainya pertumbuhan ekonomi yakni masalah domestik bukan masalah internasional. Sebab, jika berkaca pada negara-negara lain, mereka masih tumbuh meskipun hanya kecil.

"Tapi kecil dibandingkan Indonesia yang 5 persen dengan PDB yang sekian tinggi mereka jauh lebih tinggi lagi. Jadi 1 persen pertumbuhan tidak ada masalah. Indonesia pertumbuhan ekonomi 5 persen itu kecil bangat karena PDB-nya kan sekian," jelas dia.

Baca juga:
Ekonom Prediksi Ekonomi RI Tetap Tumbuh 5,2 Persen di 2020
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2019 Diramal Melambat di 4,9 Persen
Nilai Tukar Rupiah Diramal Bakal Menguat di 2020
Tutup 5 Tahun Jabatan, Berikut Rapor Merah Pemerintah Jokowi dan Jusuf Kalla
Inilah Kelebihan dan Kekurangan Sektor Ekonomi Pemerintahan Jokowi 2014-2019
Wapres JK Minta Masyarakat Paham Kondisi Ekonomi Dunia
INDEF Sentil Presiden Jokowi Jangan Hanya Blusukan ke Pasar

(mdk/bim)