Perusahaan Elektronik Asal China Relokasi Pabrik Senilai Rp1,3 T ke Subang

Perusahaan Elektronik Asal China Relokasi Pabrik Senilai Rp1,3 T ke Subang
UANG | 10 Juli 2020 19:28 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - PT Meiloon Technology Indonesia (PT MTI), salah satu perusahaan asal Taiwan melakukan relokasi investasi ke Indonesia dari Suzhou, China sebagai pusat produksi pasar global. Perusahaan tersebut bergerak di bidang usaha industri speaker, audio, dan video elektronik.

"PT MTI berlokasi di Subang, Jawa Barat dengan rencana investasi sebesar USD 90 juta dan akan mempekerjakan sekitar 8.000 tenaga kerja Indonesia," demikian dikutip laman Instagram BKPM, Jakarta, Jumat (10/7).

Saat ini perusahaan sedang dalam tahap konstruksi. Perusahaan tersebut rencananya akan mulai berproduksi komersial pada akhir 2020 ini. Seluruh hasil produksi perusahaan di Indonesia akan diekspor.

"Di bawah kepemimpinan kuat Presiden Joko Widodo kami yakin bahwa Indonesia adalah negara yang tepat untuk kami berinvestasi," ujar Chairman Meiloon Industrial, Wei Chung Wu.

Adanya perusahaan yang melakukan relokasi investasinya ke Indonesia, merupakan kerja keras bersama antara BKPM, pemerintah pusat, dan daerah. BKPM akan terus berkomitmen memfasilitasi investor, salah satunya melalui percepatan perizinan.

1 dari 1 halaman

Bos BKPM Pastikan Ada Investasi Masuk dari Relokasi Bisnis

pastikan ada investasi masuk dari relokasi bisnis rev1

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia memastikan segera ada investasi yang merupakan relokasi industri dari sejumlah negara. Dia menjelaskan, BKPM telah berkomunikasi dengan para investor dan sudah memastikan relokasi sejumlah investasi.

"Di BKPM sudah ada yang masuk, ada yang 60 persen, ada yang masih penjajakan. Tapi data saya akan berikan saat di-announce (diumumkan) Presiden, karena yang saya kerjakan akan saya lapor ke Presiden. Habis itu akan saya sampaikan," kata Bahlil di Jakarta, dikutip Antara, Jumat (19/6).

Seperti diketahui, pemerintah tengah mengincar peluang relokasi investasi sejumlah industri dari China. Pemerintah pun siap memfasilitasi dengan menawarkan ketersediaan kawasan industri yang terintegrasi.

Sebelumnya, pada 2017-2018 tidak ada satu pun investor yang melakukan relokasi industri dari China ke Tanah Air. Namun, kali ini keadaannya akan berbeda. "kali ini insya Allah lebih dari satu, dua, tiga, empat, lebih, insya Allah. Tapi, tunggu Pak Presiden yang akan sampaikan. Kami harus clear-kan dulu datanya," imbuhnya.

Untuk menarik relokasi industri tersebut, BKPM akan mengeluarkan sejumlah jurus, salah satunya untuk mengatasi masalah lahan. Bila memungkinkan, investor tak perlu membeli lahan untuk bisa berinvestasi di Indonesia melainkan hanya menyewa ke pemilik lahan.

"Sewa atau kerja sama saja. Kita mau bikin seperti Vietnam. Makanya negara hadir untuk beli dulu tanahnya. Atau kita ambil tanah BUMN, kemudian kita kerjasama dengan perusahaan karya, baru kemudian dikelola oleh kawasan industri sebagai kawasan industri," katanya.

Strategi itu diharapkan bisa menjadi solusi atas tingginya harga lahan di Tanah Air untuk kebutuhan investasi. Selain itu, jurus lain yang disiapkan adalah pemberian insentif sebagaimana arahan Presiden Jokowi agar ada insentif yang benar-benar membuat investor datang.

"Ketiga, itu rahasia. Kalau semua saya ungkap nanti bocor marketing negara," jelasnya.

(mdk/bim)

Baca juga:
Arkadia Digital Media Raup Pendapatan 2019 Rp 37,66 M dan Laba Usaha Rp 1,35 M
CEK FAKTA: Tidak Benar Jokowi Jual Tanah Lebih Murah ke Perusahaan China
Di Tengah Pandemi, Penjualan ORI017 di Bareksa Melesat 608 Persen
42 Bank di Indonesia Saat ini Dimiliki Asing
OJK: Bank Butuh Pemilik Modal Kuat Untuk Bertahan di Tengah Pandemi Corona
Menaker Ida Dorong Investasi Asing Gunakan Pekerja Lokal dan Ada Alih Teknologi
Kurangi Beban PMN, Jokowi Minta Pembiayaan Alternatif Tol Trans-Sumatera

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami