Petani Merugi Harga Ubi Bahan Baku Saus Turun Drastis

UANG | 14 September 2019 21:00 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Para petani ubi ungu mulai panen di puncak musim kemarau saat ini. Sayangnya, musim panen tahun ini mereka harus merasakan kenyataan bahwa harga panen atas tanaman yang mereka tanam ternyata mendapat harga yang tidak sebanding.

"Panen kali ini, harganya anjlok. Cuma Rp1.000 per kilogram. Ini menyedihkan sekali," tutur Totok Abdul Manap, salah satu petani ubi ungu di Desa Jeruk Sok-Sok, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso saat ditemui Merdeka.com di sela-sela memanen hasil tanamannya.

Kondisi ini dirasakan berbeda jauh dengan hasil panen pada musim panen tahun lalu. "Tahun lalu harganya bias mencapai Rp2.500 per kilogram," tutur Totok.

Dengan harga jual di tingkat petani hanya di kisaran Rp1.000 per kilogram, keuntungan yang diperoleh petani pemilik lahan menjadi amat tipis. Biaya produksi untuk sekali penanaman meliputi biaya pupuk, pembelian bibit dan yang terutama ongkos tenaga kerja saat penanaman dan panen.

"Kira-kira ongkos produksi di kisaran Rp800 per kilogram. Tergantung luas lahan juga. Ongkos paling besar ya tenaga kerja," jelas Totok.

Para petani terpaksa tetap memanen ubi ungunya karena jika terus dibiarkan, akan terus merugi. Hal ini terkait dengan biaya produksi yang akan membengkak jika tidak segera dipanen. Sedangkan menunggu harga membaik dirasakan terlalu spekulatif.

Para petani menduga, anjloknya ubi ungu pada panen kali ini karena panen hampir bersamaan dengan di daerah lainnya. Selain di Bondowoso, penanaman ubi ungu juga banyak dilakukan di Magetan dan Bojonegoro. "Biasanya ada tengkulaknya yang ngambil untuk dijual ke pabrikan di Surabaya."

Ubi ungu ini selama ini menjadi salah satu bahan untuk pembuatan saos dan bumbu penyedap masakan oleh pabrikan di Surabaya.

Dengan kondisi harga seperti ini, Ahmad masih akan berpikir ulang apakah akan menanam ubi ungu pada musim tanam mendatang. "Tetapi memang di sini ubi ungu menjadi pilihan utama tanam pada musim hujan. Kalau musim kemarau seperti sekarang, kita tanamnya jagung yang lebih tahan kering," papar Totok.

Baca juga:
Jelang Musim Tanam, Pupuk Indonesia Siapkan 1,26 Juta Ton Pupuk Subsidi
Produksi Padi di Garut Dipastikan Mengalami Penurunan
Tidak Ada Air, 237 Hektare Tanaman Padi dan Jagung di Kendal Gagal Panen
Diserang Hama Ulat, Ratusan Hektare Sawah di Garut Terancam Gagal Panen
Menjaga Ketahanan Pangan Melalui Pelatihan Bercocok Tanam
Menko Darmin Soal Bea Masuk Pangan Impor: Itu Baru Diskusi Saja

(mdk/idr)

TOPIK TERKAIT