PMN Sebaiknya Diberikan Jika BUMN Yakin Mampu Cetak Cuan

PMN Sebaiknya Diberikan Jika BUMN Yakin Mampu Cetak Cuan
Rupiah. ©2013 Merdeka.com
EKONOMI | 20 Oktober 2021 11:30 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Pengamat Ekonomi IndiGo Network, Ajib Hamdani meminta, kepada pemerintah lebih tegas dalam memberikan suntikan modal melalui penyertaan modal negara (PMN). Menurutnya, PMN ini harus berdasarkan evaluasi menyeluruh terutama bagi BUMN yang merugi.

"Harus ada evaluasi menyeluruh tentang efektivitas pelaksanaan kegiatan-kegiatan BUMN, terutama BUMN yang merugi," kata Ajib kepada merdeka.com, Rabu (20/10).

Dia mengatakan, selama ini pemerintah memberikan suntikan dana melalui alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang didapatkan dari pajak masyarakat atau dari utang. Sehingga harus ada target terukur ketika memberikan kucuran dana PMN tersebut.

"Maka BUMN tersebut harus bisa memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan negara," ungkap dia.

Misalnya BUMN pangan, PTPN ataupun Perindo. Sektor swasta yang bergerak di sektor pangan, hampir semuanya akan mendapatkan keuntungan bagus. Akan tetapi BUMN yang ada malah merugi. Karena Perindo dengan aset lebih dari Rp1 triliun, malah mempunyai hutang kisaran Rp600 miliar dan menunjukkan trend negatif.

"Indonesia sebagai negeri Maritim, seharusnya mendapatkan untung besar dari sektor ini," ujarnya.

Atas dasar itu, dia pun meminta pemerintah lebih tegas dalam hal pemberian PMN dan diterjemahkan dengan baik oleh kementerian BUMN maupun kementerian teknis. Ini agar hanya BUMN yang punya pola mencetak keuntungan dan tidak cuma menggerogoti uang negara laik diperhitungkan terima PMN.

"Misal ditutup atau minimal dirombak total dengan manajemen yang lebih profesional, bertanggung jawab dan mengedepankan good corporate governance," pungkas dia.

2 dari 2 halaman

Jokowi Minta PMN Disetop

pmn disetop

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyindir Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kerap mendapat proteksi sehingga tidak berani berkompetisi. Proteksi yang dimaksud adalah pemberian Penyertaan Modal Negara (PMN) ketika BUMN mengalami kerugian atau 'sakit'.

"Sehingga kalau yang lalu-lalu BUMN-BUMN terlalu keseringan kita proteksi, sakit, tambahin PMN (Penyertaan Modal Negara), sakit, kita suntik PMN. Maaf, terlalu enak sekali," katanya seperti ditulis Antara, Jakarta, Sabtu (16/10).

Presiden Jokowi menyampaikan hal itu saat memberikan arahan kepada para Direktur Utama BUMN di Hotel Meruorah Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (14/10).

"Berkompetisi tidak berani, bersaing tidak berani, mengambil risiko tidak berani. Bagaimana profesionalisme kalau itu tidak dijalankan? Jadi tidak ada lagi yang namanya proteksi-proteksi, sudah lupakan Pak Menteri yang namanya proteksi-proteksi," tegas Presiden.

Presiden Jokowi meminta agar BUMN dapat "go global", bersaing internasional. "Jadi mulai harus menata adaptasi pada model bisnisnya, teknologinya, paling penting ini. Dunia sudah seperti ini, revolusi industri 4.0, disrupsi teknologi, pandemi," tambah Presiden.

(mdk/bim)

Baca juga:
Komisi VI DPR Dukung Semangat Jokowi Benahi BUMN
Anggota DPR: Kementerian BUMN Dibutuhkan untuk Mengelola Perusahaan Pelat Merah
Pendukung Kenaikan Laba BUMN 356 Persen, Termasuk Penanganan Pandemi Semakin Baik
ICW Soroti Rangkap Jabatan Komisaris BUMN dalam 2 Tahun Jokowi-Ma'aruf
Menteri Erick Catat Transformasi BUMN Cetak Laba Bersih Naik 356 Persen
Jasa Marga Pastikan Informasi Rekrutmen Beredar Saat ini Hoaks, ini Alasannya
Politikus NasDem: Saya Surprise, Jokowi Mendukung Setiap Langkah Erick Thohir

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami