PP 22/2020 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Terbit, ini Ketentuan yang Diatur

PP 22/2020 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Terbit, ini Ketentuan yang Diatur
UANG | 11 Juli 2020 19:00 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Peraturan ini sekaligus merupakan payung hukum turunan yang mengatur pelaksanaan teknis UU Jasa Konstruksi.

"Pengaturan dalam PP ini berlaku pada seluruh pekerjaan konstruksi di Indonesia, baik yang dilaksanakan melalui sektor pemerintah, swasta maupun usaha perorangan," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Trisasongko Widianto, dalam siaran persnya, di Jakarta, Sabtu (11/7).

Adapun latar belakang diterbitkannya PP No 22 Tahun 2020 merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan iklim usaha yang kondusif, penyelenggaraan jasa konstruksi yang transparan, persaingan usaha yang sehat, penyederhanaan skema dan pengaturan jasa konstruksi agar tidak membebani masyarakat, serta menjamin arah kebijakan jasa konstruksi yang baik dan mengedepankan profesionalisme.

"Kita lihat bahwa sektor konstruksi masih terus bergerak di tengah Pandemi COVID-19. Karena itu, saya berharap dengan diterbitkannya PP Nomor 22 tahun 2020 ini akan semakin memperkuat sektor konstruksi di Indonesia, sebab dengan adanya sektor konstruksi yang berkualitas dan kuat secara otomatis akan menjamin kesejahteraan masyarakat," kata Trisasongko.

Dibandingkan dengan pengaturan sebelumnya, PP No 22/2020 ini memberikan pedoman yang lebih jelas dalam pembagian tanggung jawab dan kewenangan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, baik provinsi/kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pembinaan, pengawasan jasa konstruksi dan pengenaan sangsi. Kemudian penataan kembali struktur usaha dan segmentasi pasar jasa konstruksi; pengaturan rantai pasok sumber daya konstruksi serta perluasan peran masyarakat jasa konstruksi.

Beberapa pasal dalam PP No 22 Tahun 2020 sangat strategis dalam memberikan peran yang lebih besar kepada masyarakat jasa konstruksi untuk dapat berperan aktif dalam pengawasan, pemberian masukan perumusan kebijakan serta forum jasa kontruksi.

Disamping itu, masyarakat jasa konstruksi melalui asosiasi badan usaha, asosiasi profesi, pengguna jasa, perguruan tinggi, pakar, pelaku rantai pasok, dan pemerhati konstruksi dapat terlibat langsung dalam kewenangan Pemerintah Pusat dengan menjadi pengurus lembaga.

1 dari 1 halaman

Asosiasi Bisa Bentu Lembaga Sertifikasi

bentu lembaga sertifikasi

Asosiasi diberikan ruang yang lebih besar untuk membentuk Lembaga Sertifikasi, setelah mendapatkan akreditasi dari Pemerintah. Hal ini diharapkan dapat mendorong seluruh asosiasi profesi, badan usaha dan rantai pasok untuk lebih profesional dalam mengembangkan klasifikasi usaha/profesinya serta menjalankan fungsi pembinaan dan pemberdayaan untuk anggotanya.

"Lahirnya UU Nomor 2 Tahun 2017 atau PP No 22 Tahun 2020 diharapkan dapat menjawab tantangan jasa konstruksi yang terus berubah sejalan dengan perkembangan dunia konstruksi menuju industri konstruksi yang berkelanjutan," tutupnya.

(mdk/bim)

Baca juga:
PT PP Libatkan 138 Pelaku UMKM dalam Pengadaan Barang dan Jasa
Webinar Bimtek Kementerian PUPR: Proyek Konstruksi Jamin Berlanjut
Kementerian PUPR Targetkan Sertifikasi 113.900 Tenaga Kerja Konstruksi
PUPR Gelar Program Akreditasi Dorong Pelaku Jasa Konstruksi Berdaya Saing Global
Kementerian PUPR Segera Terbitkan Aturan New Normal untuk Jasa Konstruksi
Industri Kontruksi dan Jasa Konsultan Diprediksi Mati Suri Tahun Ini
Pulihkan Sektor Konstruksi, Asosiasi Harap Pemerintah Revisi Beberapa Aturan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami