Presiden Jokowi Perintahkan OJK Reformasi Industri Asuransi

Presiden Jokowi Perintahkan OJK Reformasi Industri Asuransi
UANG | 16 Januari 2020 12:47 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Industri asuransi di Indonesia kini tengah tercoreng karena adanya kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri.

Di saat yang bersamaan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga hendak mereformasi industri asuransi di Tanah Air. Apakah kebijakan itu diambil lantaran adanya kasus yang diakibatkan Jiwasraya dan Asabri?

Saat ditanyai hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membantahnya dan mengatakan bahwa lembaga keuangan non-bank kini memang memerlukan sebuah langkah reformasi.

"Tidak, tapi memang membutuhkan itu. Lembaga keuangan non-bank memang membutuhkan itu sehingga nanti akan diberlakukan OJK dan kami support secara pemerintah," tegas Presiden Jokowi di sela-sela Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Ritz-Charlton Hotel, Jakarta, Kamis (16/1).

Presiden Jokowi menceritakan, pemerintah telah melakukan reformasi pada sektor keuangan perbankan pada periode 2000-2005. Kebijakan tersebut pada akhirnya membuat pengaturan, pengawasan dan permodalan perbankan jadi lebih baik dan sempurna.

"Untuk di industri keuangan yang non-bank saya sampaikan, baik asuransi dan dana pensiun butuh reformasi perbaikan, baik di pengaturan, pengawasan dan permodalan itu penting," seru dia.

Terkait kasus asuransi Jiwasraya dan Asabri, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa dirinya telah menerima laporan lengkap terkait kasus dua perseroan itu. "Oh sudah sudah. 100 persen sudah disampaikan kepada saya. Yang paling penting Menteri BUMN, OJK, Menkeu juga sudah. Nanti akan diselesaikan masalah bisnis ekonominya, kemudian urusan hukum nanti yang di Kejaksaan Agung. Yang penting itu diselesaikan," imbuhnya.

1 dari 1 halaman

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, menegaskan premi industri asuransi tumbuh positif meski tengah ramai kasus PT Asuransi Jiwasraya. Di mana, kenaikannya mencapai 2 persen year on year (yoy).

Pada November 2018 tercatat premi asuransi komersial tumbuh 4,1 persen atau senilai Rp246,7 triliun. Lalu pada November 2019 berada di angka 6,1 persen atau senilai Rp261,65 triliun.

"Asuransi komersial mencapai Rp261,65 triliun, tumbuh 6,1 persen," kata Wimboh di acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Hotel Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta, Kamis (16/1).

Dia melanjutkan, kasus Jiwasraya tidak terlalu berimbas pada industri asuransi. Namun, dari kasus tersebut, mengajarkan untuk memberikan perhatian lebih serius dalam industri asuransi.

Sebab, pasca krisis ekonomi pada tahun 1997-1998, industri asuransi belum pernah dilakukan reformasi. Adapun reformasi yang dibutuhkan terkait pengaturan dan pengawasan permodalan.

Sejak 2018, Wimboh mengklaim OJK sudah mulai melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan para direksi keuangan. Saat ini OJK akan proaktif melakukan pengawasan yang lebih detil berbagai hal yang berkaitan dengan izin. Namun, dia meminta langkah ini mendapat dukungan dari berbagai pihak.

"Kami meminta seluruh direksi keuangan untuk melihat kembali yang terjadi dan segera mengeksekusi, menginformasikan dan juga segera melaporkan ke OJK," pinta Wimboh.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com

(mdk/bim)

Baca juga:
Ketua OJK Klaim Kinerja Industri Asuransi Aman Meski Diterpa Kasus Jiwasraya
Bos Asabri Sebut Isu Korupsi Rp10 Triliun Hoaks
Jadi Penyelamat Jiwasraya, Payung Hukum Holding Asuransi Diteken Februari
Erick Thohir Sebut Likuiditas Asabri Masih Aman
Ini Perusahaan yang Bakal Tergabung di Holding BUMN Asuransi
Buntut Kasus Jiwasraya & Asabri, Jasa Raharja Diminta Hati-Hati Kelola Uang
Curhat Nasabah Jiwasraya: Kita ini Orang Tua, Penuh dengan Penyakit

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami