Proses Ribet, UMKM Enggan Manfaatkan KUR Perbankan

Proses Ribet, UMKM Enggan Manfaatkan KUR Perbankan
UMKM. ©2021 Merdeka.com
EKONOMI | 1 Oktober 2022 14:00 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mengaku enggan mengajukan kredit ke perbankan untuk mendapatkan modal. Mereka beranggapan bahwa proses pengajuan kredit saat ini terlalu berbelit, dan mereka tak mau ribet. Padahal di Kota Susu tersebut masih banyak pelaku UMKM yang masih kekurangan modal.

Pernyataan dikemukakan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Boyolali, Karsino, disela acara Sosialisasi Program KUR dan Lembaga Keuangan untuk Kredit Usaha Rakyat yang diselenggarakan Bale Rakyat Aria Bima dan Yayasan Bangun Watak di Front One Hotel, Boyolali, Jumat (30/9)

"Di Boyolali ini pelaku UMKM kebanyakan tidak mau berbelit-belit sehingga mereka enggan untuk mengajukan kredit ke bank. Selain itu dari pihak bank sendiri juga belum maksimal untuk menyalurkan kredit ke pelaku UKM," ujarnya.

Menurut Karsino, di Boyolali ada sekitar 8.000 UMKM yang terdaftar di Disdagperin. Dikatakannya, jumlah tersebut meningkat pasca pandemi Covid-19 lalu. "Datanya memang tidak statis, selalu dinamis. Dulu sebelum pandemi jumlahnya banyak tetapi saat pandemi hilang dan sekarang sudah mulai banyak lagi," jelasnya.

2 dari 3 halaman

Pemerintah Turunkan Bunga KUR

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima meminta para pelaku UKM agar melihat pasar yang terus berubah. Di era teknologi seperti saat ini, pilihan bagi konsumen semakin banyak.

"Coba kita lihat ke pasar, kita cek. Misal produk makanan, konsumen juga pasti akan melihat kemasannya juga. Selain itu di promosinya, bisa juga ada proses pembuatannya," katanya.

Dengan demikian, lanjut Politisi PDIP, konsumen bisa memilih produk yang sehat, enak dan murah. Bima juga mengimbau pata pelaku UKM untuk memanfaatkan program KUR dari pemerintah.

"Saat awal pak Jokowi menjadi presiden, bunga KUR 19 persen kemudian turun secara bertahap hingga saat ini menjadi 6 persen," ucapnya.

Bima berharap pelaku usaha yang sudah mengakses KUR mulai menghitung keuangan dengan bunga normal. Sehingga bisa menghitung ongkos produksi dengan realistis.

"Pelaku UMKM tetap menghitung nyicil bunga itu 12-14 persen t 6 persen. Selain itu juga untuk upah tenaga kerja juga harus dihitung realistis. Sehingga bisa tahu untung atau rugi," jelas dia.

3 dari 3 halaman

Curhat Pelaku UMKM

Salah satu pelaku UKM,  Muhammad Nusron mengaku belum mendapatkan akses KUR dan perbankan. Dia pun tertarik untuk mengajukan program KUR, namun masih ragu karena prosesnya berbelit dan biaya administrasi yang tinggi. 

"Saya terus terang masih ragu, prosesnya ribet. Nominal yang diterima tidak sebesar yang diajukan karena harus dipotong administrasi," katanya.

Dalam acara tersebut selain menghadirkan Wakil Ketua Komisi VI Aria Bima secara online, juga menghadirkan Cluster Manager Mikro Bank Mandiri Solo, Budi Dipa serta praktisi marketing digital Ahmad Ridho. 

(mdk/idr)

Baca juga:
Menkop: Struktur Ekonomi Didominasi Usaha Mikro, Itu Artinya Gagal Bangun Industri
Menteri Teten: Bantuan UMKM Belum Cair karena Keterbatasan Anggaran
Cara Ibu-ibu di Kota Bandung Kurangi Sampah Rumah Tangga, Ubah Baju Bekas Jadi Kebaya
UMKM Perlu Pertajam Analisis Pasar, Caranya?
Tiba di NTT, Iriana Jokowi dan OASE KIM Tinjau Vaksinasi Booster dan Pameran UMKM
PNM Bersama Kemenkop UKM Gelar Pelatihan NIB Kepada Perempuan Ultra Mikro di Manado

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini