PT SMI Dapat Pinjaman dari Sindikasi Bank Asing Senilai Rp10,26 Triliun

PT SMI Dapat Pinjaman dari Sindikasi Bank Asing Senilai Rp10,26 Triliun
PT SMI tandatangani Perjanjian Pinjaman Sindikasi Offshore. ©2020 Liputan6.com/Tira Santira
EKONOMI | 10 September 2020 15:28 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) Persero menandatangani Perjanjian Pinjaman Sindikasi offshore senilai USD 700 juta atau Rp10,26 triliun. Pinjaman ini diberikan mitra perbankan asing, yakni MUFG Bank Ltd, United Overseas Bank (UOB), Standard Chartered Bank, Bank of China (Hong Kong), dan Bank Chinatrust (CTBC Bank).

"Ini minimal bisa untuk kepastian likuiditas SMI sampai tahun depan, dan yang paling penting, saya rasa likuiditas pada saat ini merupakan hal paling kritikal. Sebab, kita tahu bersama sedang menghadapi krisis, dampaknya kita harus sedia payung untuk menghadapi likuiditas khususnya terkait aset," kata Direktur Utama PT SMI (Persero), Edwin Syahruzad, dalam sambutannya di Jakarta, Kamis (10/9).

Perjanjian ini menjadi sinyal bahwa sektor pembangunan infrastruktur memiliki daya tahan atau resilience. Sehingga akan terus menjadi sektor strategis meskipun di tengah ancaman resesi ekonomi.

Pihaknya berharap, keberlanjutan pembangunan infrastruktur dapat menjadi pemicu untuk membangun kembali perekonomian pada fase recovery dari pandemi.

Adapun rencana penggunaan dana pinjaman sindikasi ini adalah untuk refinancing dan memenuhi kebutuhan pembiayaan baru. Kemudian, dana ini akan digunakan untuk pembangunan proyek-proyek infrastruktur. Sehingga struktur asset liability management perusahaan akan menjadi lebih baik dan sehat.

"Berbagai proyek yang telah difasilitasi PT SMI dari berbagai sektor telah memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang besar. Hingga Juli 2020, PT SMI mampu memberikan efek pengganda hingga 6,79 kali dari total komitmen dan 22,22 kali dari modal disetor," katanya.

2 dari 2 halaman

Penarikan Bertahap

pt smi dapat pinjaman dari sindikasi bank asing senilai rp10,26 triliun

Nantinya fasilitas senilai USD 700 juta ini akan ditarik secara parsial atau bertahap. Tidak semuanya ditarik di depan, di mana penarikan pertama untuk pelunasan dari fasilitas bridging loan itu sendiri.

Saat ini, PT SMI mendapatkan fasilitas bridging sementara, oleh karena itu akan digunakan untuk melunasi fasilitas bridging loan yang akan jatuh tempo tahun depan sebesar USD 410 juta, yang akan segera ditarik.

"Dengan demikian kita punya fasilitas USD 410 juta dengan tenor 3 tahun. Sisanya akan ditarik secara bertahap sesuai kebutuhan, availability period-nya akan ditarik yang USD 700 juta dikurangi USD 410 juta, itu akan available buat kami sepanjang 1 tahun,” jelasnya.

Edwin menegaskan bahwa kondisi PT SMI cukup solid, meskipun aset belum besar. Saat ini aset PT SMI ada di kisaran Rp80 triliun, tapi secara quality dirinya memastikan masih terjaga, lantaran NPL Gross-nya berada di kisaran 1,39 persen.

"Sedikit naik dibanding akhir tahun kemarin, tapi kita punya cukup tabungan. Tabungan awal tahun kemarin kita adopsi, ini ajang yang bagus untuk sedia payung menyiapkan tabungan secara disiplin," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami