Ramalan Bank Indonesia Jika Pemerintah Naikkan Tarif Listrik di 2020

UANG | 9 Desember 2019 16:36 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo

Merdeka.com - Pemerintah telah memutuskan untuk memangkas subsidi energi listrik untuk pelanggan mampu 900 VA pada 2020. Imbasnya, tarif listrik pelanggan tersebut berpotensi naik karena mengikuti skema penyesuaian atau tariff adjustment.

Bank Indonesia (BI) menilai kenaikan tarif listrik tersebut tidak akan berpengaruh besar hingga menyebabkan gejolak pada perekonomian. Target inflasi hingga pertumbuhan ekonomi dinilai tak akan terdistorsi.

"Inflasi dari administered price pasti ada kenaikan tapi target inflasi masih bisa. Target pertumbuhan tidak akan terganggu," ujar Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Endy Dwi Tjahjono saat ditemui di Labuan Bajo, Senin (9/12).

BI memahami langkah pemerintah dalam memangkas perlahan segala bentuk subsidi. Sebab, hilangnya subsidi akan membuat tekanan penyumbang inflasi dari sisi diatur pemerintah atau administered price akan berkurang.

"Tidak ada lagi inflasi administered price atau akan minimal kalau tidak ada lagi subsidi," tuturnya.

SVP Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI), Ryan Kiryanto, menambahkan pemerintah diminta menjaga harga sembilan bahan pokok (sembako) jika harus memutuskan menaikkan tarif listrik.

"Ketika penarikan subsidi listrik terjadi akan mendorong inflatoir dari konsumsi listrik. Maka dari sisi non administered price harus bisa dikontrol terutama harga sembako sehingga bisa deflatoir," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Dongkrak Inflasi

Wacana pencabutan subsidi listrik dinilai akan berdampak pada inflasi. Sekitar 24,4 juta pelanggan listrik 900 VA dipastikan akan menyumbang inflasi jika subsidi resmi dicabut.

Hal itu disampaikan oleh Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro dalam acara Macro Economic Outlook 2019, di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Kendati demikian dia menilai pengaruhnya tidak akan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi secara umum.

Dengan asumsi pencabutan subsidi tersebut, tingkat inflasi tahun 2020 diproyeksi naik jadi 3,5 persen. Sementara hingga akhir tahun, Andry memperkirakan tingkat inflasi bakal sebesar 3,41 persen.

"Dampak dari pencabutan subsidi listrik enggak sebesar kalau BBM dinaikkan, inflasi kita perkirakan dari 3,41 persen tahun ini ke 3,5 persen," kata dia.

Sementara dari sisi pertumbuhan ekonomi, jika kinerja neraca perdagangan Indonesia membaik dan didorong dengan kondisi perekonomian global yang kian stabil bakal bisa mencapai 5,1 persen pada tahun 2020 mendatang. (mdk/idr)

Baca juga:
BPS Ingatkan Pemerintah Tak Naikkan Tinggi Tarif Listrik di 2020
2020, Tarif Listrik 900 VA Bakal Naik
Menteri ESDM Tunggu Evaluasi Data Pelanggan 900 VA Sebelum Subsidi Dicabut
Menteri ESDM Minta Tarif ListriK Industri Turun, Ini Jawaban Bos PLN
Tarif Listrik Golongan 900 VA Rumah Tangga Mampu Masih Dikaji
Tak Lagi Disubsidi, Pelanggan 900 VA Bisa Rasakan Kenaikan Tarif Listrik Tahun Depan

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.