R&I Pertahankan Peringkat Utang Indonesia pada BBB+ Outlook Stabil

R&I Pertahankan Peringkat Utang Indonesia pada BBB+ Outlook Stabil
Utang. ©Shutterstock
EKONOMI | 5 Juli 2022 09:42 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Lembaga Pemeringkat Rating and Investment Information, Inc. (R&I) kembali mempertahankan sovereign credit rating atau peringkat utang Indonesia pada BBB+ (investment grade) dengan outlook stabil pada 4 Juli 2022. Keputusan ini mempertimbangkan terjaganya stabilitas eksternal Indonesia yang didukung momentum pemulihan ekonomi yang terus berlanjut dan perbaikan postur fiskal.

R&I juga melihat kebijakan moneter masih memiliki ruang di tengah inflasi yang meningkat secara gradual dan, perbaikan fiskal didukung kenaikan harga komoditas. R&I sebelumnya mempertahankan peringkat utang Indonesia pada BBB+ dengan outlook stabil (dua level di atas tingkat terendah investment grade) pada 22 April 2021.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, afirmasi peringkat Indonesia menunjukkan pemangku kepentingan internasional tetap memiliki keyakinan yang kuat atas terjaganya stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia.

Apalagi, keputusan tersebut di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, peningkatan risiko stagflasi seiring kenaikan suku bunga kebijakan secara global di tengah ekonomi yang baru pulih, serta makin luasnya kebijakan proteksionisme oleh berbagai negara.

"Hal ini didukung oleh kredibilitas kebijakan yang tinggi serta sinergi bauran kebijakan yang kuat antara BI dan pemerintah," kata Perry di Jakarta, dikutip Antara, Selasa (5/7).

Ke depan, bank sentral akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global dan domestik, merumuskan dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan stabilitas keuangan, termasuk penyesuaian lebih lanjut sikap kebijakan bila diperlukan, serta terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

R&I memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh kuat pada 2022, dimana pemerintah memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) akan berada pada kisaran 4,8 persen sampai 5,5 persen pada 2022.

Untuk meredam dampak kenaikan harga komoditas global terhadap inflasi, pemerintah telah menaikkan alokasi subsidi dan belanja sosial (shock absorber), yang akan dibiayai melalui peningkatan penerimaan sejalan dengan tingginya harga komoditas.

Pada sisi eksternal, neraca transaksi berjalan mencatatkan surplus pada 2021, yang didukung oleh perbaikan terms of trade seiring kenaikan harga komoditas dan kembali mencatatkan surplus pada kuartal I-2022. (mdk/azz)

Baca juga:
Pemkot dan Pemkab Tasikmalaya Utang Rp20 Miliar, RSUD dr Soekardjo Terancam Bangkrut
Turun 50 Persen, Utang Garuda Indonesia Tersisa Rp 75,6 T Usai Restrukturisasi
Garuda Indonesia Diberi Waktu 30 Hari untuk Finalisasi Utang ke Kreditur
BPK Temukan Piutang Pajak Macet Rp20,84 Triliun di LKPP 2021
Dua Kreditur Asing Tolak Perdamaian, Sidang PKPU Garuda Indonesia Ditunda Sepekan
Waskita Beton Precast Raih Persetujuan Kreditur Tunda Pembayaran Utang

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini