RDG Bank Indonesia November Putuskan Pertahankan Suku Bunga Acuan 5 Persen

UANG | 21 November 2019 14:46 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan November 2019 Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan pada angka 5,00 persen. Suku bunga Deposit Facility juga ditahan pada angka 4,25 persen dan Lending Facility 5,75 persen.

"Rapat Dewan Gubernur BI pada 20-21 November 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day repo rate," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, di Kantor BI, Jakarta, Kamis (21/11).

Dia menegaskan kebijakan moneter akan tetap akomodatif dan konsisten untuk mencapai sasaran inflasi yang terjaga. Penetapan suku bunga ini juga bertujuan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan stabilitas perekonomian domestik.

"Menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah menurunnya ekonomi global," ujar bos Bank Indonesia tersebut.

1 dari 2 halaman

BI Perlu Pangkas Suku Bunga 25 Bps

Kepala Kajian Makro LPEM UI, Febrio Kacaribu, mengatakan pihaknya memandang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia perlu kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps. Dengan demikian suku bunga acuan BI menjadi 4,75 persen.

Dia menjelaskan indikator makro terkini menunjukkan bahwa tren perlambatan ekonomi Indonesia, baik dalam sisi permintaan maupun produksi masih terus berlanjut. BI memulai siklus kebijakan akomodatifnya sejak Juli 2019 dan telah memangkas suku bunga kebijakan sebanyak empat kali.

"Relatif membaiknya kondisi eksternal dan risiko dari perlambatan pertumbuhan ekonomi di bawah potensinya menjadi alasan yang kuat bagi pelonggaran ini," kata dia, lewat keterangan tertulis, Kamis (21/11).

Secara domestik, konsisten dengan melemahnya permintaan, tingkat inflasi masih tetap lebih rendah dibandingkan dengan target BI. Dilihat dari sisi eksternal, sedikit perbaikan terjadi pada defisit transaksi berjalan (CAD) di Triwulan-III 2019 menjadi 2,7 persen terhadap PDB, didukung oleh beberapa penyesuaian yang terjadi pada impor terutama pada defisit minyak yang lebih rendah.

Di sisi lain, aliran masuk modal portofolio terus berlanjut, didukung oleh daya tarik imbal hasil riil yang ditawarkan oleh obligasi Rupiah yang relatif lebih menarik ketimbang negara berkembang lainnya. Rupiah tetap stabil sementara BI mengakumulasi cadangan internasional.

"Secara keseluruhan, dengan kondisi domestik dan eksternal saat ini, kami melihat bahwa BI perlu memangkas suku bunga kebijakannya sebesar 25 bps di bulan ini," katanya.

2 dari 2 halaman

Rinciannya

Secara lebih rinci, dia memaparkan, kinerja inflasi secara keseluruhan tetap stabil, disebabkan oleh inflasi umum dan inflasi inti pada bulan Oktober tetap berada dalam kisaran target BI yaitu 2,5-4,5 persen. Secara bulanan, indeks harga konsumen naik 0,02 persen (mtm), setelah mencatat deflasi -0,27 persen (mtm) di bulan sebelumnya.

Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 3,13 persen (yoy) pada bulan lalu; melambat dari 3,39 persen (yoy) di September. Inflasi yang terkendali di Oktober disebabkan oleh kenaikan harga bahan makanan pada laju yang lebih lambat.

Harga pangan yang fluktuatif kembali mengalami periode deflasi, turun menjadi -0,47 persen (mtm) pada Oktober dari -2,26 persen (mtm) pada bulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh penurunan harga cabai merah karena komoditas tersebut sedang dalam musim panen serta penurunan pada harga telur.

Selanjutnya, inflasi komponen harga yang diatur oleh pemerintah tetap stabil, tercatat sebesar 0,03 persen (mtm), relatif tidak berubah dibandingkan dengan 0,01 persen (mtm) pada bulan September. "Inflasi inti bulanan melambat menjadi 0,17 persen (mtm) dari 0,29 persen (mtm) di bulan sebelumnya. Demikian juga dengan inflasi inti tahunan yang turun menjadi 3,20 persen (yoy), menandakan konsumsi yang stabil."

CAD pun membaik menjadi 2,7 persen terhadap PDB di Triwulan-III 2019 (USD7,7 miliar) dari 2,9 persen terhadap PDB di Triwulan-II 2019 (USD8,2 miliar), didukung oleh lebih rendahnya defisit perdagangan minyak dan gas karena penerapan kebijakan B-20 di tengah surplus perdagangan non-migas yang stabil.

Kinerja ekspor pada Triwulan-IV 2019 akan dibantu oleh meningkatnya harga minyak sawit sebagai akibat dari potensi meredanya ketegangan AS-Tiongkok yang telah meningkatkan harga kedelai.

"Ke depan, neraca transaksi berjalan yang relatif terkelola ini dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menolong ketahanan eksternal Indonesia menghadapi perlambatan perekonomian global," ujar dia.

Secara keseluruhan, Rupiah tetap stabil pada level Rp14.000, terapresiasi sebesar -3,0 persen (ytd) pada 18 November 2019; lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya (Gambar 6). Penguatan Rupiah dipengaruhi oleh adanya pengurangan pada risiko eksternal serta stabilitas kondisi dalam negeri yang cukup kondusif.

Sedikit meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong aliran modal untuk masuk ke negara-negara berkembang. Investor terlihat masih memiliki kepercayaan percaya terhadap kondisi fundamental Indonesia, yang tercermin dari total akumulasi aliran modal masuk hingga pertengahan November 2019 yang mencapai USD12,7 miliar dan juga sepenuhnya tercermin dari imbal hasil yang lebih rendah untuk obligasi pemerintah tenor 10-tahun dan 1-tahun menjadi 7,1 persen dan 5,5 persen pada November.

"Secara keseluruhan, relatif tingginya imbal hasil riil yang ditawarkan oleh pasar obligasi Indonesia tetap menarik untuk memikat investor asing jika dibandingkan dengan pasar lainnya di Asia," jelas Febrio.

Selain memangkas suku bunga kebijakan sebanyak empat kali berturut-turut, Bank Indonesia juga melonggarkan beberapa indikator makroprudensial, termasuk rasio loan-to-value (LTV) untuk memitigasi pertumbuhan kredit yang memburuk. Sementara itu Bank Indonesia juga telah mengumpulkan lebih banyak cadangan devisa menjadi sebesar USD126,7 miliar, dari USD124,3 miliar pada bulan sebelumnya. Cadangan tersebut dibutuhkan sebagai penyangga untuk menghadapi risiko adanya guncangan eksternal.

"Untuk bulan ini, melihat perkembangan yang telah dibahas di atas, kami memandang bahwa Bank Indonesia perlu memangkas suku bunga kebijakannya sebesar 25 bps menjadi 4,75," tandasnya.

(mdk/bim)

Baca juga:
Pemerintah Kaji Penurunan Suku Bunga Kredit Usaha Rakyat
Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga Acuan Oktober 2019 Menjadi 5 Persen
BI Sebut Butuh Waktu untuk Perbankan Turunkan Suku Bunga
Suku Bunga Acuan BI Turun, Belum Tentu Diikuti Perbankan
Ekonomi Melambat, Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga Acuan
KEIN Nilai Bank Indonesia Masih Akan Turunkan Suku Bunga Acuan
Gubernur BI: Suku Bunga Nol Persen Tak Jamin Ekonomi Maju

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.