Rektor ITS Prediksi Sektor Transportasi Baru Pulih Setelah 2 Tahun

Rektor ITS Prediksi Sektor Transportasi Baru Pulih Setelah 2 Tahun
UANG | 2 Juni 2020 15:41 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Muhammad Ashari mengatakan bahwa untuk bisa keluar dari dampak pandemi Covid-19, Indonesia perlu memperhatikan 3 aspek yakni ekonomi, kesehatan dan teknologi. Khusus sektor ekonomi, yang memengaruhi yakni transportasi.

Selama vaksin Covid-19 belum ditemukan, sektor transportasi diprediksi bakal terus menurun. Terutama pada permintaan untuk perjalanan masyarakat.

"Selama belum ada vaksin dan imun masyarakat masih belum kebal maka yang pertama demand untuk traveling masyarakat akan turun," kata Ashari dalam Webinar Kementerian Perhubungan bertajuk 'Kolaborasi Merespon Dampak Pandemi Covid-19 dan Strategi Recovery pada Tatanan Kehidupan Normal BAru di Sektor Transportasi', Jakarta, Selasa (2/6).

Pandemi ini memukul sektor transportasi darat, laut dan udara. Termasuk transportasi berbasis daring seperti ojek online.

Ashari menilai sektor transportasi penumpang ini baru akan kembali pulih setelah 2 tahun. Namun, perbaikannya pun tidak akan kembali seperti semula.

"Akan kembali sekitar 2 tahun lagi, namun tidak akan sama persis dengan sebelumnya," ungkap Ashari.

Sehingga perlu solusi kebijakan dari pemangku kebijakan. Dalam menyusun regulasi penting untuk memasukkan protokol kesehatan.

Misalnya jumlah penumpang harus dikurangi sehingga akan menyisakan 60 persen saja. Selain itu, perlu ada penjadwalan ulang dan prosedur tambahan bagi angkutan udara. Sebab jika ini tidak dilakukan, akan beresiko tinggi pada penularan virus asal Wuhan ini.

"Kalau pesawat ganti penumpang, pasti harus dilakukan sterilisasi," kata Ashari.

1 dari 1 halaman

Integrasi Protokol Kesehatan dan Teknologi

kesehatan dan teknologi rev1

Untuk itu, perlu adanya integrasi antara kebijakan protokol kesehatan dengan teknologi di sektor transportasi. Misalnya, dengan membuat sensor temperatur suhu tubuh manusia. Sehingga bisa mendeteksi suhu tubuh manusia baik dalam kerumunan maupun secara perorangan.

Teknologi ini sudah diterapkan pada Robot Raisa yang melayani pasien Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Airlangga. Teknologi yang sama juga bisa digunakan di sektor transportasi.

"Ini kalau menjadikan standar transportasi kita akan jadi lebih fleksibel dan cepat," kata dia.

Maka dari itu, ITS akan mengembangkan teknologi UV yang bisa dipasang terus menerus atau didekatkan. Kemudian privasi tempat duduk tiap orang dengan menggunakan teknologi.

Transportasi otonomus akan bersiap dipercepat di masyarakat. Akibat Covid-19 ini, perlu menyiapkan solusi berupa kebijakan untuk otonomus yang non autonomous. Seperti mobil listrik yang perlu dibuatkan standarnya.

"Dari ketiga ini insyaallah bisa membereskan dan akan lebih enjoy masuk ke fase kenormalan yang baru," kata dia mengakhiri. (mdk/idr)

Baca juga:
Sambut Kenormalan Baru, PT KCI Siapkan 3 Tahapan Operasional KRL
Aturan Baru di KRL: Dilarang Bicara, Lansia dan Pedagang Boleh Naik di Jam Tertentu
Keunikan Ojek Palang di Tasikmalaya, Bisa Angkut 20 Penumpang dan Picu Adrenalin
PR Pemerintah Atur Transportasi saat New Normal: Jamin Jaga Jarak di Jam Sibuk
New Normal, Tombol Elevator LRT Ada di Bawah Kaki dan Tap In Gunakan Aplikasi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5