Respons Data Investasi BKPM, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Stagnan di Rp14.660 per USD

Respons Data Investasi BKPM, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Stagnan di Rp14.660 per USD
UANG | 23 Oktober 2020 16:08 Reporter : Sulaeman

Merdeka.com - Nilai tukar atau kurs Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup stagnan, menyusul terbitnya laporan realisasi investasi kuartal III-2020 oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Rupiah ditutup stagnan di level Rp14.660 per USD, sama seperti posisi pada perdagangan sebelumnya. Namun demikian, Rupiah sempat melemah sebesar 45 point pada sesi pagi hari ini.

Akan tetapi, dalam perdagangan minggu depan, mata uang garuda kemungkinan akan dibuka fluktuatif dan melemah 50 poin namun ditutup menguat tajam 10-60 point di level Rp14.610-Rp14.690 per USD.

Adapun laporan BKPM mencatat ada kenaikan realisasi investasi di kuartal III sebesar 1,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Angka ini jauh membaik dibandingkan kuartal II-2020. Kala itu, realisasi investasi anjlok menjadi Rp191,9 triliun atau terkontraksi 4,3 persen YoY. Sedangkan secara kumulatif Januari-September 2020, nilai investasi sebesar Rp 611,6 triliun atu naik 1,7 persen YoY.

"Kalau melihat data Investasi tersebut, optimistis masa kritis realisasi investasi sudah terlewatkan. Pembangunan Infrastruktur kembali berjalan dan tinggal bagaimana ke depannya agar pemerintah dan masyarakat terus menjaga agar investasi terus stabil dan meningkat dari waktu ke waktu, sehingga apa yang di cita-citakan Kuartal IV PDB tidak terjadi kontraksi," ujar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam riset hariannya, Jumat (23/10).

Sementara dari sisi eksternal pergerakan Rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertama, Presiden AS Donald Trump dan Joe Biden berpartisipasi dalam debat presiden terakhir yang terbatas sebelum pemilihan presiden 3 November pada hari sebelumnya.

"Trump mengadopsi lebih terkendali daripada selama debat presiden pertama pada 29 September, di mana ia terus-menerus menyela Biden dan moderator Chris Wallace," jelas dia.

Namun, beberapa investor mengharapkan kehati-hatian dan tidak ada langkah besar menjelang pemilihan. Harapan yang terus-menerus bahwa Kongres akan mengeluarkan paket stimulus sebelum pemilihan dan keyakinan bahwa pengeluaran akan mengikuti, tidak peduli siapa yang terpilih, telah mendorong aksi jual di pasar obligasi untuk mengantisipasi lebih banyak pinjaman pemerintah.

Baca Selanjutnya: Data Positif AS...

Halaman

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami