Rezim suku bunga tinggi masih terjadi tahun depan

UANG | 18 Desember 2013 21:25 Reporter : Sri Wiyanti

Merdeka.com - Tahun depan, Bank Indonesia (BI) diproyeksi masih akan menerapkan kebijakan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Ekonom Universitas Atmajaya Agustinus Prasetyantoko melihat, BI akan menaikkan BI Rate hingga 50 basis poin di kuartal I 2014.

Kebijakan itu tidak lepas dari adanya kemungkinan Amerika Serikat melakukan tappering off di kuartal I 2014. Tapering off akan memicu kenaikan The Fed Rate sebagai imbas membaiknya perekonomian Amerika Serikat. Kenaikan The Fed Rate akan memicu tingkat suku bunga di AS juga meningkat. Pada akhirnya ini membuat imbal hasil investasi AS juga ikut naik.

"Maka sebagian investasi akan masuk ke AS, dan itu otomatis likuiditas akan semakin ketat. Karena itu saya menduga rezim suku bunga ketat, untuk menarik portofolio investasi masuk ke Indonesia, masih akan berlangsung di 2014. Saya perkirakan ini naik lagi 7,5 persen jadi 8 persen di kuartal pertama 2014," papar Agustinus di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (18/12).

Defisit neraca transaksi berjalan juga masih menjadi pemicu tingginya suku bunga tinggi tahun depan. Jika pemerintah belum dapat menekan laju defisit neraca transaksi berjalan hingga di bawah 2,5 persen dari PDB, ini akan menambah sentimen negatif investor asing terhadap Indonesia.

Meski begitu Agustinus masih melihat adanya kemungkinan BI menurunkan suku bunga acuannya. Potensi tersebut dimungkinkan terjadi setelah 3-4 bulan pertama di awal tahun dan jika kondisi mulai stabil. "Tapi ketika intensitas volatilitas mulai reda, itu bisa diturunkan, itu pun tidak bisa dibawah 7 persen. Rangenya masih 7-8 persen BI Rate di 2014. Secara umum likuditas masih ketat," imbuh Agustinus.

Agustinus melihat, BI pasti akan menurunkan suku bunganya di 2015. Sebab, tahun itu dinilai sebagai tahun ekspansi. Di tahun ekspansi pertumbuhan ekonomi harus digenjot dan pemerintah harus melakukan dan mendorong ekspansi besar-besaran.

"Sehingga mau tidak mau suku bunga harus diturunkan, karena kita harus punya target pertumbuhan yang harus tinggi untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan. Jadi 2015 menurut saya harus di turunkan ke level 5-6 persen," tutup Agustinus.

(mdk/noe)

TOPIK TERKAIT