RI Dinilai Belum Siap Bertransformasi Langsung ke Energi Baru Terbarukan

RI Dinilai Belum Siap Bertransformasi Langsung ke Energi Baru Terbarukan
panas bumi. shutterstock
EKONOMI | 8 Desember 2021 12:07 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Permintaan energi fosil dalam negeri yang masih tinggi dinilai membuat Indonesia masih sulit untuk bertransformasi langsung ke energi baru terbarukan (EBT). Pemerintah tentunya sudah memiliki konsep untuk menjemput program net zero emission di 2060.

"Ini kan kerjaan besar untuk melakukan transisi energi, langkah besar yang juga butuh pembiayaan besar. Juga masih banyak permintaan untuk tetap perhatikan sumber daya yang ada, kita setuju. Namun kita dituntut ke depan untuk gunakan energi bersih," kata Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Luh Nyoman Puspa Dewi dalam sesi webinar, Rabu (8/12).

Puspa lantas menyoroti sektor pembangkit listrik di dalam negeri. Menurut dia, konsumsi listrik yang berasal dari energi fosil sejauh ini masih besar.

"Kemudian, kita siapkan dari sisi konsumsi dengan menyediakan energi listrik, kita exercise di situ. Di dalamnya akan ada kebijakan-kebijakan. Akan ada transisi energi di situ," sambungnya.

Tak ingin tertinggal dari negara lain, pemerintah mulai bergerak untuk menjangkau energi baru terbarukan, tapi di sisi lain tetap menggunakan sumber daya yang ada berupa energi fosil.

"Dari sisi demand ada banyak yang belum bisa kita zero kan. Kalau bapak/ibu pengusaha ingin investasi di energi fosil, itu sudah susah. Dunia pun sudah menutup pintunya untuk pengembangan fosil," ungkapnya.

"Tapi kita harus bijak kembangkan fosil yang ada. Dari sisi teknologi kita bisa gunakan yang lebih clean," dia menambahkan.

Secara porsi, bauran energi primer di Tanah Air masih didominasi oleh energi fosil. Terbesar di batubara mencapai 38 persen, minyak bumi 31,6 persen, dan gas alam 19,2 persen. Sementara porsi energi baru terbarukan hanya 11,2 persen.

"Potensi EBT kita cukup besar, tapi baru dipakai 0,3 persen. Ini tidak akan berubah secara draetis, tapi bertahap. Contohnya, potensi energi surya kita sangat besar, 3.000 GW. Tapi kita baru eksplorasi sedikit," tuturnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com (mdk/azz)

Baca juga:
Terima Presidensi G20 2022, Indonesia Dorong Kerja Sama Bidang Digital
Pemerintah Dorong Pembiayaan Transisi Energi di Presidensi G20
3 Strategi Kemenperin Dorong Industri Hijau
Perpres Nilai Ekonomi Karbon Jadi Basis Penetapan Insentif Industri Hijau
Menperin Agus Beberkan Sejumlah Tantangan Indonesia Wujudkan Industri Hijau
Menko Airlangga Ajak Pelaku Usaha Migas Bersiap Transisi Menuju Energi Hijau

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami