RI Dorong Kendaraan Listrik, Menteri Erick Keukeuh Proyek 35.000 MW Harus Tetap Jalan

RI Dorong Kendaraan Listrik, Menteri Erick Keukeuh Proyek 35.000 MW Harus Tetap Jalan
UANG | 1 April 2020 12:04 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, menyatakan proyek strategis BUMN akan terus jalan terlepas dari pandemi virus corona yang saat ini mewabah di Indonesia. Salah satu proyek strategis yang tetap ingin dijalankan pemerintah ialah pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW).

Menteri Erick menyatakan, meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, kebutuhan listrik tetap akan meningkat. Terlebih, pemerintah ke depan sedang menggenjot kendaraan listrik.

"Sekarang memang slowing down (ekonomi), tapi kebutuhan listrik meningkat. Karena banyak sekali konversi dari kebutuhan fosil jadi listrik, seperti mobil, bis dan lainnya," ujar Menteri Erick dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (1/4).

Lanjut Menteri Erick, kebutuhan listrik industri juga akan terus meningkat ke depan. Oleh karenanya, ini merupakan suatu potensi dan peluang untuk mengalihkan industri yang saat ini menggunakan bahan bakar fosil.

"Saya yakin di seluruh dunia bicara supply chain, karena mereka mau tidak mau lagi fokus ke satu negara, misalnya China," imbuh Menteri Erick.

Oleh karenanya, Menteri Erick menyatakan pihaknya jangan sampai kendor karena penyebaran virus corona. Seluruh proyek strategis harus tetap jalan.

"Makanya kami bilang seluruh proyek strategi jalan untuk antisipasi, jangan sampai ekonomi negara lain kembali, tapi kita masih stagnan karena telat antisipasi," paparnya.

1 dari 1 halaman

PLN: Mobil Listrik Lebih Irit Dibanding Bensin, Cuma Butuh Rp3.000 per 10 Km

listrik lebih irit dibanding bensin cuma butuh rp3000 per 10 km

PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) memastikan bahwa biaya konsumsi mobil listrik lebih murah dibandingkan mobil mesin bensin. Hal ini terjadi akibat adanya efisiensi energi yang lebih maksimal dalam penggerak mobil listrik.

Wakil Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Darmawan Prasodjo merincikan, untuk rata-rata mobil saat ini membutuhkan 1 liter bahan bakar minyak (BBM) untuk jarak tempuh 10 kilometer (km). Di mana harga bensin dan solar non subsidi sebesar Rp9.500 per liter. Dengan demikian, untuk jarak tempuh 10 km, mobil menggunakan bensin membutuhkan biaya sebesar Rp9.500.

Sementara untuk jarak tempuh yang sama, mobil listrik hanya memperlakukan daya listrik sebesar 2 kilo watt hour (kWh). Di mana tarif PLN sebesar Rp1.467 per kWh, maka mobil listrik hanya membutuhkan biaya listrik sebesar Rp2.934 per 10 km atau hanya sekitar Rp3.000 per 10 km.

"Satu kWh listrik, kalau rumah tangga Rp1.467. Kali dua kurang lebih Rp3.000. Jadi kalau pakai mobil bensin 10 km biayanya Rp9.500, kalau pakai listrik Rp3.000," ujar Darmawan di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (17/1).

Dia menjelaskan, hasil pembakaran BBM untuk menggerakkan mesin mobil cenderung tidak maksimal. Mengingat, dari 1 liter BBM hanya 80 persen di antaranya yang dapat diubah menjadi bahan bakar penggerak mobil.

Kondisi ini berbeda dengan mobil listrik, yang menggerakkan mesin dengan jumlah pasokan sumber tenaga yang lebih rendah. "Efisiensi lebih dari 60 persen," ucapnya.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Baca juga:
Selama Masa Covid-19, Bupati Penajam Sumbang Seluruh Gaji Buat Penanganan
CEK FAKTA: Tidak Benar Air Rebusan Bawang Putih Bisa Sembuhkan Corona
Kata Pakar Hukum Soal PSBB dan Karantina Wilayah
Pelaksanaan Haji 2020, Arab Saudi Minta Umat Islam Tunggu Status Pandemi Corona
Imbas Virus Corona, Bank Mandiri Revisi Turun Pertumbuhan Kredit
2 Direktur Rumah Sakit Meninggal, Satu Positif Covid-19, Satu lagi PDP
Hari Ini, Bupati Kuningan Mulai Terapkan Karantina Wilayah Parsial Imbas Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami