Rupiah Kembali Melemah Imbas Pernyataan IMF Virus Corona Picu Krisis Ekonomi

Rupiah Kembali Melemah Imbas Pernyataan IMF Virus Corona Picu Krisis Ekonomi
UANG | 30 Maret 2020 13:59 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah kembali melemah usai mengalami penguatan pada akhir pekan lalu. Mengutip Bloomberg, saat ini nilai tukar mata uang Garuda berada pada level Rp16.384 per USD.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, mengatakan pelemahan nilai tukar hari ini disebabkan oleh pernyataan IMF pada pekan lalu. Di mana, IMF menyatakan pandemi Virus Corona berubah menjadi krisis ekonomi global.

"Soal Rupiah yang melemah, wajar sekali karena hampir semua negara secara global baik investor setelah mendapat informasi dari IMF bahwa Covid-19 akan menyebabkan krisis ekonomi global," ujarnya kepada merdeka.com, Jakarta, Senin (30/3).

Ibrahim mengatakan, pernyataan tersebut telah memunculkan kepanikan bagi pasar keuangan. Terlebih lagi pasar mengamati bahwa dampak penyebaran pandemi saat ini masih akan berlangsung untuk jangka yang cukup lama.

"Pelaku pasar kembali panik dan menganggap Virus Corona adalah periode ketidakpastian yang kemungkinan besar akan terus berkembang. Jadi ketidakpastian yang berkepanjangan," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Pernyataan IMF

Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Lesetja Kganyago dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini mengalami krisis karena pandemi Virus Corona (Covid-19). Virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut telah mewabah hampir ke seluruh negara.

"Kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana pandemi kesehatan global telah berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan," demikian dikutip dari siaran pers IMF, Jakarta, ditulis Sabtu (28/3).

Dengan adanya penghentian mendadak dalam kegiatan ekonomi, output global akan berkontraksi pada 2020. Negara-negara anggota telah mengambil tindakan luar biasa untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi kegiatan ekonomi.

"Tetapi dibutuhkan lebih banyak. Prioritas harus diberikan pada dukungan fiskal yang ditargetkan untuk rumah tangga dan bisnis yang rentan untuk mempercepat dan memperkuat pemulihan pada tahun 2021," lanjutnya.

Meskipun dampak kesehatan terbesar adalah di negara maju, pasar negara berkembang dan negara berkembang, terutama negara berpenghasilan rendah, akan sangat terpukul oleh kombinasi dari krisis kesehatan, pembalikan tiba-tiba aliran modal dan bagi sebagian orang, penurunan tajam dalam harga komoditas.

Banyak dari negara-negara ini membutuhkan bantuan untuk memperkuat respons krisis mereka dan memulihkan pekerjaan dan pertumbuhan, mengingat kekurangan likuiditas valuta asing di ekonomi pasar berkembang dan beban utang yang tinggi di banyak negara berpenghasilan rendah.

(mdk/bim)

Baca juga:
Rupiah Merosot ke Rp16.000 per USD, Ini Perbedaannya dengan Krisis 1998
Pengusaha Teknologi Informasi Mulai Khawatir Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Nilai Tukar Rupiah Terus Anjlok, Tembus Level Rp16.575 per USD
Kekhawatiran Virus Corona Belum Reda, Rupiah Diprediksi Tembus Rp17.000 per USD
Pelemahan Rupiah Kerap Jadi Momen Pedagang Spekulan Naikkan Harga Barang
IHSG dan Rupiah Terkapar, BKPM Yakinkan Investor Hal Sama Terjadi di Dunia
Kopi Kenangan Khawatirkan Pelemahan Rupiah Ganggu Bisnis Makanan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5