Rupiah terpuruk, jasa konstruksi di ujung tanduk

UANG | 25 September 2013 14:04 Reporter : Novita Intan Sari

Merdeka.com - Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS mulai terasa pada bisnis sektor jasa konstruksi. Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) melihat, fluktuasi nilai tukar rupiah berimbas pada kenaikan harga berbagai material utama konstruksi lebih dari 21 persen. Kenaikan ini terjadi periode Juni-September 2013.

"Kami sudah di ujung tanduk. Ini tekanan ketiga terhadap industri konstruksi pada tahun ini, setelah kebijakan pemerintah menaikkan UMR dan harga BBM bersubsidi yang menambah beban bagi para pelaku jasa konstruksi. Tapi kita masih dapat bertahan," ujar Ketua LPJKN, Tri Widjayanto saat konferensi pers di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu (25/9).

Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada material utama konstruksi saja, tapi juga material lain seperti transportasi atau angkutan dan tuntutan kenaikan upah pekerja.

"Kenaikan harga pada material utama hingga September 2013 meliputi solar industri 10-15 persen, aspal 15-20 persen, besi beton 10-15 persen dan beton readymix 12-17 persen," jelasnya.

Dampak lanjutannya, beberapa pemasok material dan peralatan menahan barang dan tidak bersedia mengikat harga untuk periode lebih dari satu minggu.

"Dampak kenaikan yang sangat signifikan ini menyebabkan juga turunnya kinerja pelaksanaan konstruksi dan mengganggu pencapaian target sebagaimana ditetapkan dalam kontrak," ungkap dia.

Tri mengaku, dalam waktu dekat akan mengirimkan surat kepada Kementerian Pekerjaan Umum, Bappenas dan Kementerian Keuangan.

"Dalam satu minggu kami bersama anggota lainnya dan juga asosiasi yang bersangkutan akan mengirimkan surat kepada tiga lembaga tersebut," tutupnya. (mdk/noe)

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.