Saat Badai Virus Corona Hantam Pariwisata Bali

Saat Badai Virus Corona Hantam Pariwisata Bali
UANG | 30 Maret 2020 08:00 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Industri pariwisata sangat sensitif dengan bencana. Pada 2017 silam, pariwisata Bali terdampak letusan dan erupsi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali. Bencana ini menghantam pariwisata Pulau Dewata hingga luluh lantah.

Ibarat mimpi di siang bolong, pariwisata Bali yang menyumbang 40 persen pariwisata Indonesia itu agaknya belum lama pulih, namun badai sudah datang lagi, bahkan dengan gelombang yang lebih menggulung hingga sulit diprediksi entah kapan berakhir.

Badai kali ini bernama virus corona atau Covid-19 yang juga telah melanda sebagian besar negara di dunia.

Jumlah pasien positif Covid-19 di Bali memang masih jauh di bawah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur, kendati Bali merupakan kawasan pariwisata dunia, apalagi mayoritas pasien Covid-19 di Bali adalah WNA.

Logikanya, Bali sebagai kawasan pariwisata seharusnya memiliki jumlah pasien yang terpapar lebih banyak, namun ada beberapa langkah menarik yang dilakukan Pemprov Bali yang menyebabkan tidak banyak paparan Covid-19 di kawasan wisata dunia itu.

Di tengah kekurangan dalam kesiapsiagaan wilayah, Bali masih mampu menghambat laju Covid-19 di pintu masuk bandara dengan memulangkan ratusan orang yang datang ke Bali tapi berasal dari negara-negara yang terpapar Covid-19, meski pengunjung yang bersangkutan tergolong sehat saat tiba.

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali mencatat ada 117 warga asing yang ditolak masuk ke Bali sejak 5 Februari sampai 17 Maret sesuai Permenkumham Nomor 7 Tahun 2020.

"Penolakan ini dilakukan karena mereka memiliki riwayat perjalanan ke negara terpapar COVID-19, di antaranya Rusia, Amerika Serikat dan Ukraina," kata Kakanwil Kemenkumham Bali, Sutrisno, di Denpasar (19/3). Demikian dikutip dari Antara.

Selain ketat di pintu masuk, Pemprov Bali melalui Satgas Penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali juga melakukan kolaborasi dengan kalangan perhotelan untuk mengecek tamu yang masuk, dan juga meminta warga Bali yang bekerja di kapal pesiar atau menjadi TKI untuk memeriksakan diri pada, serta menyiapkan tempat karantina dan rapid test.

Bahkan, Pemprov Bali juga menempuh satu langkah penuh risiko ketika Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra mengumumkan ada dua pasien positif Covid-19 di Pulau Dewata merupakan warga asal Bali dalam 'live streaming' pada 23 Maret 2020.

"Ini penting saya informasikan kepada masyarakat, artinya bahwa masyarakat Bali saat ini sudah ada yang terinfeksi positif dua orang. Dengan demikian, COVID-19 sudah ada di Bali, sudah ada di sekitar kita," kata Dewa Indra yang juga Sekda Bali itu.

Dia merinci, satu warga Bali yang positif Covid-19 diketahui terjangkit setelah pulang dari Italia, sedangkan satu warga Bali lainnya setelah melaksanakan tugas dinas luar daerah di DKI Jakarta. Bahkan, kini jumlah warga Bali yang terpapar sudah bertambah.

"Kita harus percaya Covid-19 sudah ada di sekitar kita. Mari kita percaya pada arahan pemerintah, mari kita ikuti untuk saling menjaga jarak satu sama lain agar tidak ada penyebaran di antara kita," ucapnya.

Baca Selanjutnya: Ikon Pariwisata...

Halaman

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami