Sederet Kebijakan OJK di Pasar Modal

Sederet Kebijakan OJK di Pasar Modal
UANG | 10 Agustus 2020 12:24 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyadari dampak pandemi Covid-19 begitu terasa di seluruh sendi-sendi perekonomian. Salah satu terjadi seperti di sektor keuangan.

"Dampak pandemi Covid-19 terlihat di sektor keuangan. Fluktuasi dan gejolak pasar modal global di masa awal pandemi membuat ketahanan pasar modal kita benar-benar diuji," kata dia dalam sambutannya, di jakarta. Senin (10/8).

Akibat wabah virus corona, imbal hasil obligasi meningkat, indeks harga saham gabungan juga bergerak sangat fluktuatif dan pernah mencapai level terendahnya di 3.937 pada 24 Maret atau terkontraksi 37 persen dari posisi akhir tahun lalu.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah mengambil langkah cepat. Serangkaian kebijakan pre-emptive telah dikeluarkan OJK dengan bersinergi bersama SRO sejak awal Maret 2020 untuk memitigasi terjadinya pemburukan akibat tingginya sentimen negatif yang ditimbulkan.

Beberapa kebijakan dilahirkan di antaranya adalah pelarangan short selling,
buyback saham tanpa RUPS dalam kondisi pasar berfluktuasi signifikan, perubahan batasan auto rejection menjadi asymmetric, dan perubahan batasan trading halt serta penyesuaian sesi perdagangan di pre-opening.

"Ini merupakan paket kebijakan yang kami tempuh untuk meredam volatilitas. Langkah ini kami lakukan dengan cepat dan terukur dalam merespon dinamika yang terjadi," jelas dia.

Selain itu, berbagai kebijakan relaksasi juga dikeluarkan agar industri pasar modal dapat tetap bertahan di masa sulit ini. Di antaranya relaksasi pemenuhan prinsip keterbukaan, relaksasi kewajiban penyampaian pelaporan, serta stimulus bagi industri pengelolaan investasi.

"Kami juga bersinergi dengan Pemerintah maupun BI untuk menggerakkan roda perekonomian di sektor riil di antaranya melalui kebijakan restrukturisasi, penempatan dana, penjaminan kredit dan subsidi bunga," paparnya.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, kini pemerintah dapat kita rasakan dampaknya di pasar modal. Di mana volatilitas mereda dengan IHSG kembali bergerak stabil di level di atas 5.000 (IHSG),Jumat 7 Agustus ditutup 5.143,89, menurun 0,11 persen mtd dan tumbuh negatif 18,34 persen (ytd).

Di samping itu, capital outflow pun terpantau menurun, dan pasar obligasi mulai kembali menguat, serta yield menurun 36,6 persen ytd. (mdk/azz)

Baca juga:
Bos OJK: Investor Tidak Perlu takut Berinvestasi di Pasar Modal
OJK Susun Aturan agar UMKM Lebih Mudah Melantai di Bursa Saham
Pasar Modal Diharapkan Bisa Genjot Ekonomi RI di Tengah Pandemi
Ridwan Kamil Minta Masukan OJK Tumbuhkan Industri Manufaktur Jawa Barat
OJK Bakal Atur Praktik Perencana Keuangan, Cegah Kasus Jouska Terulang
OJK: Investasi Bodong Buat Tingkat Inklusi Keuangan di Indonesia Masih Rendah

TOPIK TERKAIT
more tag

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami