Sejarah Kantong Plastik, Dulu Selamatkan Bumi Sekarang Jadi Penyumbang Sampah

UANG | 7 November 2019 08:00 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Gerakan perangi kantong plastik saat ini tengah digalakkan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Terlebih lagi, Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik ke laut terbesar nomor dua di dunia

Namun, siapa sangka jika dulu kantong plastik diciptakan untuk menyelamatkan bumi.

Kantong plastik pertama kali dibuat pada tahun 1959 oleh Sten Gustaf Thulin dengan tujuan untuk membantu lingkungan. Alasan Thulin menciptakan kantong plastik adalah untuk mengganti kantong kertas.

Putra Thulin, Raoul Thulin mengatakan, dunia tengah mencoba untuk menjaga sumber daya alam. Sehingga kantong plastik akan lebih mudah dibawa ke mana pun dan bisa dipakai berkali-kali.

"Bagi ayah saya, gagasan bahwa orang-orang hanya akan membuang ini akan menjadi aneh," katanya dilansir The Richest.

Dalam sejarahnya, saat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis berjaya. Hal ini karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam yang langka. Dengan demikian, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas.

Sepanjang periode perang, penelitian tentang plastik juga terus dilakukan. Ini terbukti pada 1941, polyethylene terephthalate (PET) ditemukan. PET sendiri merupakan bahan untuk membuat botol minuman bersoda karena cukup kuat menahan dua tekanan atmosfer. Hal ini juga membuktikan betapa serba gunanya bahan-bahan baru yang murah tersebut.

1 dari 1 halaman

Pergantian Persepsi

Pada masa-masa tersebut, optimisme terhadap plastik cenderung berlebihan. Sesudah perang, terjadi pergeseran persepsi tentang plastik. Dia tak lagi dipandang positif, terutama setelah puing-puing plastik di lautan pertama kali teramati pada 1960-an.

Terlebih lagi, di tahun 1962 Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring mengungkapkan bahaya pestisida. Ditambah pada 1969, tumpahan minyak di lepas pantai California juga mulai mendapat perhatian.

Kedua kasus tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang polusi. Kesadaran tentang isu lingkungan pun menyebar dan membuat plastik dipandang negatif. Sejak 1970-an hingga kini, plastik menjadi limbah yang diwaspadai.

Saat ini, seluruh dunia kembali menggencarkan pemakaian barang-barang ramah lingkungan, termasuk kantong kertas. Mereka mungkin mengalami biodegradasi lebih cepat, tetapi karena lebih berat mereka membutuhkan lebih banyak biaya transportasi. Selain itu, mereka membutuhkan lebih banyak air dan energi untuk membuatnya daripada yang dibutuhkan kantong plastik.

Masalahnya adalah, bukan energi yang digunakan untuk menciptakan mereka yang menjadi masalah. Itu fakta bahwa manusia hanya membuangnya ketika kita tidak seharusnya melakukannya. (mdk/azz)

Baca juga:
Menko Luhut Minta Gojek Turut Kampanyekan Pengurangan Sampah Plastik
Melihat Proses Pembuatan Plakat di Cilincing
Blusukan ke Pasar, Puluhan Istri Dokter di Solo Bagi-Bagi Tas Kain
Sekolah di Melbourne Wajibkan Siswa Bawa Kotak Bekal dan Bawa Pulang Sampah
Tahun Depan, Bandung Bakal Wajibkan Pemakaian Kantong Plastik Bayar Rp5.000
Pemerintah Genjot Pengembangan Industri Daur Ulang Plastik

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.