Sekolah Petani Jadi Solusi Kebakaran Hutan

UANG | 13 Agustus 2019 14:21 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Kebakaran hutan kembali melanda sebagian wilayah Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Kabut asap akibat pembakaran lahan tersebut bahkan sudah mengganggu aktivitas warga. Pemkot Pontianak di Kalimantan Barat bahkan meliburkan kegiatan belajar mengajar tingkat TK dan SD sederajat, disebabkan tebalnya kabut asap. Peniadaan kegiatan belajar mengajar, berlaku hingga Kamis (15/8) mendatang

Presiden Joko Widodo atau Jokowi sendiri akan melakukan kunjungan kerja ke Singapura dan Malaysia dalam pekan ini. Namun, Jokowi mengaku malu bertemu pimpinan negara tetangga karena asap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sampai ke dua wilayah itu.

"Saya kadang-kadang malu. Minggu ini saya mau ke Malaysia dan Singapura. Tapi, saya tahu minggu kemarin sudah jadi headline, Jerebu masuk lagi ke negara tetangga kita. Saya cek jerebu ini apa? ternyata asap, hati-hati malu kita kalau engga bisa menyelesaikan ini," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, negara lain yang terdampak asap dari karhutla di tanah air mengaku sudah senang karena dalam empat tahun tidak ada lagi kabut asap. Untuk itu, Jokowi mengingatkan kepada para peserta rakornas pentingnya mengatasi dan mencegah karhutla.

Seyogyanya, kebakaran hutan lebih baik dicegah dibanding kesiapan pemadaman api. Cara sederhana pun bisa mengurangi kebakaran hutan. Salah satu caranya seperti yang dilakukan perkebunan kelapa sawit Sinar Mas di Regional Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Perusahaan memberi pembinaan dan mendampingi petani dalam berkebun agar hasilnya maksimal. Harapannya, masyarakat tidak perlu lagi membuka lahan karena hasil yang didapat saat ini sudah sangat memuaskan.

Saat ini, Sinar Mas Regional Semitau mengutus pria asal Sumatera Utara, Jaya Purba untuk membina dan membuka sekolah petani di Desa Lembedak yang terletak di sebelah kebun sawit Belian Estate. Di sekolah ini, petani diajarkan membuat pupuk organik yang lebih sehat untuk tanaman. Selain itu, Jaya Purba juga mengajarkan petani dalam mengolah lahan agar tanaman bisa menghasilkan secara maksimal.

"Pelatihan ini sudah kita jalankan sejak April 2018, banyak petani akhirnya menanam sayuran, padi, cabai dan lainnya," ucap Jaya Purba saat ditemui di Desa Lembedak.

Terbukti, pelatihan dan sekolah petani yang diberikan Sinar Mas secara gratis ini menarik perhatian petani sekitar perkebunan kelapa sawit. Kini, 34 kepala keluarga mengikuti pelatihan ini dan mempraktikkan penanaman sayuran, cabai dan padi di lahan mereka masing masing. Hasil yang didapatpun cukup memuaskan.

"Awalnya petani yang ikut baru 17 kepala keluarga, karena agak sulit meyakinkan mereka kalau mereka belum melihat hasilnya pertaniannya secara langsung. Tapi lama lama mereka tertarik dan mungkin nanti anggota sekolah ini bisa bertambah terus," harap Jaya Purba.

Para petani juga tak bisa menyembunyikan kegemberiaannya melihat hasil panen yang sangat memuaskan. Rangga misalnya, pria paruh baya ini bisa memanen cabai tiga hari sekali dengan berat rata-rata 5 Kg. Pokok atau tanaman cabai yang ditanam mencapai 500 pokok dan belum dipanen semua. Tingginya harga cabai saat ini turut membantu keluarga Rangga mendapatkan pundi pundi rupiah.

Bagusnya hasil panen kata Rangga tak lepas dari pengelolaan lahan dan pupuk organik yang bagus seperti yang diajarkan Jaya Purba. "Kalau cabai saya bisa panen 5 Kg tiap tiga hari. Ini belum panen semua," tegasnya.

Idris Rusadi Putra ©2019 Merdeka.com

Tetangga Rangga, Hasyim juga merasakan hal yang sama. Berkat pembelajaran pengolahan lahan, tanaman cabai miliknya bisa menghasilkan 10 Kg tiap panen. Panen dilakukan empat hari sekali. Sedangkan Tini, ibu paruh baya ini lebih memilih menanam kacang panjang, timun, terong dan sekali panen Tini bisa mengantongi uang Rp 1 juta.

"Saya nanam bayam, timun, kacang panjang, terong panen satu juta. Dulu nanam hanya buat konsumsi sendiri. Setelah ikut pelatihan saya bisa jual dan sekali panen bisa dapat Rp 1 juta," cerita Tini.

Jaya Purba mengaku senang hasil kerja kerasnya membuahkan hasil. Waktu awal mengajar di sekolah petani ini, dia bertekad bahwa kalau tidak berhasil membuat petani sejahtera, maka dia akan pulang ke kampung halamannya. Namun, hal ini tidak terjadi. Harapan Jaya Purba, dengan semakin sejahteranya petani, maka mereka tidak akan membuka lahan dengan membakar. Terbukti, semenjak ada pelatihan ini, kebakaran hutan di Semitau sudah terus berkurang.

"Harapan pelatihan ini jawaban larangan membuka lahan tanpa bakar lahan. Aksi di lapangan pelan pelan memang masih ada pembakar lahan, tapi tidak seperti dulu. Tahun lalu gak ada titik api, sebelumnya ada 2017," jelasnya.

Petani Rangga pun mengakui kebakaran hutan saat ini sudah berkurang meski tetap masih ada. Menurutnya, kebakaran hutan tak bisa dihindari, namun pembakaran sekarang berbeda dengan yang dilakukan dulu. "Dulu kita bakar semua pindah ladang, sekarang bakarnya pakai sekat dulu, diberi batas api dulu karena memang nambah lahan ini gak bisa dipungkiri," tegas Rangga.

Manajer Kebun Sawit Belian Estate di Regional Semitau, Asep mengakui bahwa kebakaran hutan sebenarnya menyebabkan kerugian bagi perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, pencegahan jauh lebih penting dibanding pemadaman. Meski demikian, perusahaan katanya tetap membuat antisipasi kebakaran seperti embung, menara api, patroli kebakaran serta mengikutsertakan masyarakat dalam pencegahan.

Perusahaan sendiri katanya telah menganggarkan sejumlah dana untuk pelatihan kebakaran, melengkapi alat pemadam dan lain sebagainya. Di 2017 saja, perusahaan menghabiskan Rp 1,8 miliar untuk pemenuhan secara massif pompa induk, pompa jinjing, tanki, tanki, teropong, helm dan lainnya.

Idris Rusadi Putra ©2019 Merdeka.com

"Selain itu, kita juga sosialisasi bahaya pembakaran hutan, ajak mereka (masyarakat) kerja sama buka lahan jangan bakar atau kita bantu. Jadi harus buka lahan tanpa bakar," katanya.

Saat ini, Belian Estate di Regional Semitau milik Sinar Mas ini mempunyai 20 orang tanggap darurat kebakaran dan telah dilakukan pelatihan khusus.

(mdk/idr)