Selama PSBB, Penjualan UMKM Makanan dan Minuman Lewat Online Tumbuh Paling Tinggi

Selama PSBB, Penjualan UMKM Makanan dan Minuman Lewat Online Tumbuh Paling Tinggi
UANG | 2 Juni 2020 20:57 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Krisis akibat pandemi Covid-19 membuat sektor usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) terpuruk. Meski begitu, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki melihat perubahan perilaku konsumen dan peluang di market online selama kebijakan PSBB. Penjualan di e-commerce mulai Maret 2020 terus meningkat hingga 18 persen.

Kampanye Di Rumah Aja mendorong penjualan kebutuhan pokok meningkat. Selama PSBB berlangsung, kebutuhan makanan dan minuman yang dipenuhi sektor UMKM meningkat 52,6 persen. Kebutuhan keperluan sekolah naik sebesar 34 persen dan kebutuhan personal seperti masker dan hand sanitizer tumbuh 29 persen.

Menteri Teten menilai, banyak pelaku usaha UMKM yang mulai beradaptasi dengan keadaan. Mereka membuka jalur bisnis baru di era teknologi seperti saat ini. "Saya optimis, UMKM selalu fleksibel dan dinamis untuk melihat peluang usaha baru”, katanya dalam siaran pers, Jakarta, Selasa (2/6).

Hanya saja, Menteri Teten menyebut UMKM yang terhubung dengan market online ini baru sekitar 13 persen atau sekitar delapan juta pelaku usaha. Sementara, yang 70 persen lebihnya belum terhubung karena tidak memiliki infrastruktur dasar, termasuk minim literasi.

Mantan Kepala Staf Kepresidenan ini sudah meminta para pelaku e-commerce untuk membuka laman UMKM di market mereka supaya produknya semakin banyak dijual di market online. Sehingga, market online tidak didominasi produk impor.

Selain itu, pelaku UMKM yang belum terhubung dengan sistem pembiayaan, bisa langsung masuk ke program relaksasi. Dengan begitu, nantinya seluruh UMKM bisa terhubung dengan sistem pembiayaan.

1 dari 1 halaman

Perluasan Pasar UMKM Terus Didorong

umkm terus didorong

Aktivasi dan perluasan penyerapan pasar (market driven) juga menjadi program KemenKopUKM selama ini untuk mendorong perbaikan UMKM agar bisa naik kelas. Kebanyakan UMKM ini tidak memiliki toko dan pasar pun terbatas di lingkungan sekitar. Maka menjadi penting untuk didorong masuk ke market online.

"Walaupun nanti sudah terhubung dengan market online, tidak berarti semerta-merta penjualan langsung meningkat," imbuh MenKopUKM.

Sebab, persaingan di market online dari sisi brand dan kualitas juga menjadi faktor yang penting. Problem utama di UMKM, brand UMKM terlalu banyak untuk satu jenis produk. Misalnya, produk kopi, keripik, bakpia, dan sebagainya. Pihaknya akan konsolidasi lewat Smesco Indonesia, yang akan meluncurkan skema brand bersama.

Selain itu, kapasitas produksi di UMKM juga masih rendah. Sehingga, kalau didorong ke market online yang pasarnya nasional dan ekspor, namun dengan keterbatasan kapasitas produksi, maka akan ditinggalkan konsumen.

(mdk/bim)

Baca juga:
BUMN Disarankan Gandeng UMKM Redam Dampak Corona
Teknologi Ini Bantu UMKM & Pedagang Tetap Berkembang di Tengah Pandemi
ISEI Dorong Konsep New UMKM Berbasis Digital di Masa Kenormalan Baru
Bank Mandiri Restrukturisasi Kredit 292.000 Nasabah, Terbesar Dari UMKM
Kadin Minta Penyaluran BLT untuk UMKM Terdampak Corona Dipercepat
Jokowi Siapkan Subsidi Bunga Kredit Rp34 T untuk UMKM Hingga Nelayan
Pelaku Usaha dan UMKM Harus Bisa Adaptasi di Era New Normal

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Jatim Bersiap Jalani Kehidupan New Normal - MERDEKA BICARA with Khofifah Indar Parawansa

5