Sering Terlibat Konflik, Astindo Kurangi Penjualan Tiket Sriwijaya

UANG | 9 November 2019 17:46 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Hubungan maskapai Sriwijaya Air dengan Garuda Indonesia belum menemui titik terang. Masalah internal maskapai tidak hanya mempengaruhi operasional penerbangan, namun berimbas pada calon penumpang dan agen tiket perjalanan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agen Indonesia (Astindo) Pauline Suharno menyatakan, pihak agen sudah memaklumi insiden ini karena bukan pertama kalinya maskapai swasta mengalami pecah kongsi dan melumpuhkan sejumlah penerbangan.

"Sebetulnya ini bukan pertama kali isu mereka cerai, itu dua bulan lalu kalau nggak salah mereka cerai pertama, kita sudah ambil langkah untuk lebih berhati-hati dalam booking tiket Sriwijaya," ujar Pauline saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (09/11).

Lanjut Pauline, pihak agen travel saat ini telah sedikit demi sedikit mengurangi jumlah deposito mereka pada maskapai. Calon penumpang pun diklaim tidak berani melakukan booking tiket Sriwijaya Air jauh-jauh hari.

"Mereka (penumpang) kalau dekat-dekat hari masih lah, kadang ada. Tapi kalau dari jauh-jauh hari itu sudah tidak (memesan)," imbuhnya.

Kadang, beberapa calon penumpang yang batal terbang meminta pengembalian uang (refund) tiket pada travel agen. Pihak agen tidak bisa terus menerus menalangi refund karena akan merugikan usaha.

"Kadang ada penumpang yang nggak ngerti, kalau refund itu tergantung maskapai, tapi mereka pengen ditalangi kita dulu, kita kan nggak bisa terus-terusan nalangin," ujarnya.

Hal ini sudah biasa dialami agen yang melayani booking tiket beberapa maskapai seperti Adam Air, Batavia Air, Mandala Air dan lainnya. Jumlahnya, diakui Pauline, mencapai miliaran rupiah.

"Kalau kasus ini saya nggak tahu berapa nilainya karena belum ada yang report, yang jelas mulai dua bulan kemarin kita sudah hati-hati dalam melayani booking tiket pesawat Sriwijaya," ungkapnya.

1 dari 1 halaman

Garuda dan Sriwijaya Pecah Kongsi

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Sriwijaya Air kembali meregang karena masih ada beberapa hal yang belum diselesaikan oleh kedua belah pihak. Padahal, kedua maskapai ini sempat kembali lanjutkan kerjasama awal Oktober lalu, setelah sempat menegang.

Akibat pernyataan tersebut, saham Garuda Indonesia dengan kode saham GIAA hari ini terjun ke zona merah. Tercatat, saham GIAA anjlok hingga ke level terendah di Rp565 per unit.

Padahal, saham maskapai pelat merah ini sempat naik ke Rp600 per unit. Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), volume saham yang ditransaksikan mencapai 6,25 juta unit senilai Rp3,62 miliar.

Dalam keterangan yang diperoleh, Direktur Perawatan dan Servis Garuda Indonesia Iwan Joeniarto mengatakan, hal ini dikarenakan masih ada beberapa hal yang belum diselesaikan oleh Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air.

"Karena keadaan dan beberapa hal yang belum diselesaikan oleh kedua belah pihak, kami memberi tahu bahwa Sriwijaya sedang melanjutkan bisnis sendiri," kata Iwan, Kamis (7/11).

Dengan demikian, Iwan melanjutkan, hubungan antara Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Group akan dilanjutkan pada basis business-to-business. (mdk/did)

Baca juga:
Pisah dengan Garuda Indonesia, Sriwijaya Air Rombak Direksi
Kemenhub Awasi Ketat Operasional Penerbangan Sriwijaya Air Group
Sriwijaya Air Pastikan Penumpang Dapat Kompensasi Pembatalan Penerbangan
Yusril Ihza Mahendra Beberkan Penyebab Pecah Kongsi Sriwijaya Air-Garuda Indonesia
Operasional Bandara Soetta kembali normal, Usai Delay Sriwijaya Air