Sewa 12 Pesawat Bombardier, Garuda Indonesia Akui Rugi Hingga Rp419 M per Tahun

Sewa 12 Pesawat Bombardier, Garuda Indonesia Akui Rugi Hingga Rp419 M per Tahun
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. ©2020 Liputan6.com/Tira Santia
EKONOMI | 10 Februari 2021 14:31 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memutuskan untuk mengakhiri operating lease dengan Nordic Aviation Capital (NAC) untuk sewa 12 pesawat Bombardier CRJ 1.000 yang jatuh tempo pada 2027. Ini dilakukan dalam kerangka efisiensi dan perbaikan fundamental dari struktur biaya perseroan, sebab peminjaman 12 pesawat sejak 2012 lalu ini telah membuat Garuda Indonesia banyak merugi.

"Kami sampaikan selama 8 tahun operasi ini kinerja operasional penggunaan pesawat ini walaupun utiliasi sudah di atas penggunaan indsutri tapi tetap saja tidak hasilkan keuntungan, atau ciptakan rugi yang cukup besar buat Garuda. Dan ke depan kami proyeksi kerugian akan muncul dengan menggunakan pesawat ini," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam sesi teleconference, Rabu (10/2).

Dia menjelaskan, kerugian pihaknya telah menanggung rugi lebih dari USD 30 juta atau sekitar Rp 419,9 miliar tiap tahunnya. Sedangkan biaya sewa pesawat sebesar USD 27 juta per tahun untuk 12 pesawat. "Apabila kita terminasi Februari sampai akhir masa kontrak (2027), kita akan saving lebih dari USD 220 juta. ini sebuah upaya untuk mengurangi kerugian untuk penggunaan pesawat ini di Garuda," terangnya.

Selain menekan kerugian, pemutusan kontrak ini juga karena pesawat tersebut tidak sesuai dengan space kebutuhan yang ada di pasar Indonesia. "Kami dari tahun ke tahun mengalami kerugian dengan menggunakan pesawat ini. Ditambah dengan kondisi Covid-19 memaksa kami tidak punya pilihan lain secara profesional untuk menghentikan kontrak ini," ungkapnya.

Status 12 pesawat Bombardier tersebut saat ini disimpan di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, dan sudah tidak digunakan mulai 1 Februari 2021 lalu. Sementara, untuk 6 armada CRJ 1000 yang saat ini dioperasikan dengan skema financial lease, juga telah diupayakan negosiasi bersama Export Development Canada (EDC) dengan mekanisme early payment settlement sesuai dengan kemampuan perusahaan.

"Saat ini Garuda Indonesia sedang menunggu jawaban dari EDC atas penawaran perusahaan untuk melakukan cash settlement sebesar USD 5 juta, dari total kewajiban Garuda Indonesia sebesar USD 46 juta," jelas Irfan.

"Kami manajemen Garuda Indonesia menyadari sekali penghentian secara sepihak ini mungkin akan ciptakan konsekuensi terpisah. Namun demikian secara profesional kami menyatakan siap tangani konsekuensi tersebut secara profesional," tandasnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com (mdk/azz)

Baca juga:
Erick Thohir Pastikan Garuda Indonesia Kembalikan 12 Pesawat Bombardier CRJ 1.000
Ikuti Jejak Kakek, Ini Cucu BJ Habibie yang Tampan Warisi Bakat & Lanjutkan Karyanya
Simak, Syarat-Syarat Bepergian dengan Pesawat Terkini
Cuaca Buruk, 2 Pesawat Rute Cengkareng-Semarang Mendarat di Adi Soemarmo
Orang Kaya Ini Ungkap Alasan Beli Pesawat Karena Harga Terjangkau, Fitra Eri Keselek
Jenis Pesawat Komersial dan Non Komersial yang Perlu Diketahui, Kenali Perbedaannya

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami