Smelter Freeport di Gresik Bakal Berada di Bawah Wewenang Kemenperin

Smelter Freeport di Gresik Bakal Berada di Bawah Wewenang Kemenperin
UANG | 24 Februari 2020 17:56 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Sektor Minerba, Irwandy Arif menyatakan bahwa pengelolaan smelter PT Freeport yang dibangun di Gresik akan menjadi kewenangan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), bukan Kementerian ESDM.

Sementara, smelter perusahaan tambang yang terintegrasi dengan pengolahan hingga pemurnian tambang masih akan tetap menjadi wewenang Kementerian ESDM.

"Jadi, smelter independen seperti Freeport yang di Gresik itu bakal menjadi wewenang Kemenperin. Sedangkan di ESDM itu hanya smelter yang integrated dengan tambang saja," ujar Irwandy di kawasan Cikini, Senin (24/2).

Adapun, aturan terkait wewenang smelter tersebut sudah didorong masuk ke regulasi pemerintah, entah itu Peraturan Pemerintah (PP), RUU Minerba atau RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Yang pasti, hal ini dilakukan demi penyederhanaan kebijakan supaya pengawasan usaha tambang bisa tepat sasaran.

Sementara, PT Freeport menggelontorkan sekitar USD 600 juta untuk membangun smelter terbesar di dunia tersebut, dan ini hanya tahap awal. Tahun depan, nilainya bisa USD 1 miliar. Smelter tersebut nantinya ditargetkan dibangun pada Agustus 2020 dan selesai 2023 mendatang.

1 dari 1 halaman

Freeport Gelontorkan Rp8,2 Triliun Tahun ini Bangun Smelter di Gresik

rp82 triliun tahun ini bangun smelter di gresik rev1

PT Freeport Indonesia akan merogoh kocek sebesar USD 600 juta atau setara Rp8,2 triliun (asumsi Rp13.707 per USD) tahun ini untuk membangun smelter Gresik. Sementara, tahun depan, Freeport menyiapkan USD 1 miliar.

"Tahun ini USD 600 juta belanja dan tahun depan 1 miliar dolar AS. Jadi tahun ini dan tahun depan besar," kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, seperti dikutip dari Antara usai RDPU di Komplek DPR, Jakarta, Rabu (19/2).

Smelter tersebut ditargetkan mulai konstruksi pada Agustus 2020. Saat ini, kata dia, masih dalam proses pemadatan tanah, mengingat lahan pembangunan smelter di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur merupakan bekas tambak atau memiliki kandungan air yang cukup tinggi.

Total investasi biaya pembangunan smelter tersebut nyaris mencapai USD 3 miliar, dengan dana pinjaman dari bank luar negeri dan dalam negeri. Sudah ada sebanyak 15 bank menyatakan dukungan atas proyek tersebut dengan Freeport akan menjaminkan aset perusahaan.

Pembangunan smelter tersebut ditargetkan selesai pada 2023 dan akan mampu memproses hingga dua juta ton konsentrat tembaga per tahun.

Kapasitas lainnya adalah berfungsi untuk pemurnian lumpur anoda. Dari kapasitas tampungan 2 juta konsentrat tembaga maka akan menghasilkan 500.000-600.000 ton katoda tembaga. Sedangkan dari lumpur anoda sendiri diperkirakan mampu menghasilkan sebanyak 40 ton emas per tahun.

Untuk konsumsi emas dalam negeri sendiri mencapai 10 ton emas. Sedangkan sisanya akan diekspor. Kemudian turunannya adalah 240 ton logam perak yang dapat diproduksi juga oleh smelter Freeport di Gresik itu nantinya. (mdk/idr)

Baca juga:
Menteri Erick: Claus Wamafma Diangkat Jadi Direktur Freeport Bukan Karena dari Papua
Kisah Sukses Putra Papua Merintis Karir, dari Teknisi Mesin Hingga Jadi Bos Freeport
Dirut Freeport Rapat dengan DPR Bahas Pembangunan Smelter
Virus Corona Tak Ganggu Kinerja Ekspor Freeport
Freeport Gelontorkan Rp8,2 Triliun Tahun ini Bangun Smelter di Gresik
Freeport: Pembangunan Smelter Gresik Baru 4,8 Persen Karena Terkendala Lahan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami