Soal Freeport, Ini Penjelasan Keuntungan Membeli Saham Divestasi ala Rhenald Khasali

UANG | 24 Desember 2018 12:01 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Indonesia melalui PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) resmi memiliki 51,23 persen saham PT Freeport Indonesia dengan membayarkan USD 3,85 miliar atau sekitar Rp 56 triliun (kurs Rp 14.500 per USD). Pengambilalihan mayoritas saham Freeport oleh PT Inalum ini pun mengubah status Freeport dari kontrak karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Guru besar FEB Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, mengatakan bahwa pengambilan mayoritas saham Freeport secara otomatis akan berdampak terhadap penerimaan negara baik melalui Inalum atau pajak. Menurutnya, dengan kepemilikan 51,23 persen tersebut, dalam satu tahun Indonesia dapat meraup USD 1 miliar atau setara Rp 14,5 triliun (asumsi Rp 14.555/USD) melalui dividen saja.

"Karena kini kita berhasil memiliki sahamnya sebesar 51,23 persen, saya yakin dalam setahun Indonesia bisa menikmati USD 1 miliar lebih. Itu duit besar," katanya melalui keterangan resminya, Senin (24/11).

"Kita bisa menjadi pemegang saham mayoritas supaya bisa dapat bagian lebih besar dan bisa pegang kendali," tambahnya.

Berdasarkan laporan keuangan Freeport yang dirujuknya, perusahaan Amerika Serikat itu memiliki EBITDA dalam setahun USD 4 miliar. Sementara, laba bersih sekitar USD 2 miliar. Maka dengan memiliki 51,23 persen saham, Indonesia akan mendapat setengah dari laba bersihnya atau sekitar USD 1 miliar.

"Jadi kalau kita mau, hanya dalam 4 tahun global bond itu beres dan setelah itu kita dapat duit gede seterusnya selama 50 tahun. Sebab, jumlah surat utang itu hanya sekitar USD 4 miliar sebagai kompensasi yang kita bayar ke PT FPI," tuturnya.

Sebagai informasi, untuk mengambil saham Freeport, Inalum menerbitkan surat utang global (global bond) sebanyak USD 4 miliar. Rinciannya, sebesar USD 3,85 miliar digunakan untuk membeli saham dan USD 150 juta untuk pembiayaan ulang (refinancing).

Obligasi ini terdiri dari 4 masa jatuh tempo dengan rata-rata kupon sebesar 5,99 persen. Adapun rinciannya, pertama USD 1 miliar dengan kupon 5,23 persen dan tenor hingga 2021.

Kedua, USD 1,25 miliar dengan kupon 5,71 persen dan tenornya hingga 2023. Ketiga, USD 1 miliar dengan kupon 6,53 persen serta tenor sampai 2028. Terakhir, USD 750 juta dengan kupon sebesar 6,75 persen hingga 2048.

"Maka kalau kita beli sahamnya dalam skema divestasi ini senilai USD 4 miliar, dalam 4 tahun global bond itu sudah bisa dibayar dari dividennya saja. Ini kan sama dengan modal dengkul. Siapa yang tidak ngiler. Makanya global bond itu oversubscribe," jelasnya.

(mdk/bim)