Speaker bambu, karya perajin Bandung yang tembus pasar dunia

Speaker bambu, karya perajin Bandung yang tembus pasar dunia
Rosyid Akhmadi memanfaatkan bambu untuk barang-barang kerajinan kelas premium. ©2018 Merdeka.com
EKONOMI | 28 April 2018 15:43 Reporter : Rohimat Nurbaya

Merdeka.com - Indonesia merupakan negara yan kaya akan sumber daya alam. Salah satunya yang banyak ditemukan di Tanah Air adalah bambu. Bambu memiliki keunggulan pertumbuhannya yang sangat cepat. Hanya butuh empat sampai enam bulan untuk menanam bambu dari mulai bibit hingga ditebang.

Melihat potensi tersebut, seorang pengusaha asal Bandung bernama Rosyid Akhmadi memanfaatkan bambu untuk barang-barang kerajinan kelas premium. Di tangan Ros, bambu 'disulap' menjadi pengeras suara tanpa listrik atau acoustic speaker.

kerajinan pengeras suara tanpa listrik atau acoustic speaker

Kerajinan pengeras suara tanpa listrik atau acoustic speaker ©2018 Merdeka.com


Tadi malam, karya Ros menjadi jawara dalam gelaran Inacraft Award 2018. Tidak tanggung-tanggung, pria lulusan Desain Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) itu meraih juara pertama untuk kategori Emerging Award. Dia mendapatkan penghargaan dari Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi).

"Kami memiliki konsep eco friendly environment and sustainable material design. Kami semuanya menggunakan material alam. Power less," kata Ros saat ditemui di ajang Inacraft 2018, di Jakarta Convention Center, Jumat malam (27/4). 

Menurut Ros, acoustic speaker tersebut dibuat dengan sedemikian rupa menggunakan perhitungan yang sangat matang, dan dikalkulasi secara detail.

kerajinan pengeras suara tanpa listrik atau acoustic speaker

Kerajinan pengeras suara tanpa listrik atau acoustic speaker ©2018 Merdeka.com


Meski bentuknya sederhana, namun pengeras suara dari bambu itu dibuat menggunakan dasar-dasar hitungan fisika dan ilmu tentang audio. "Jadi saya ingin membuat produk wajah baru kerajinan Indonesia yang memiliki value tinggi," ucap CEO dari Mohoi Bamboogoods itu.

Acoustic speaker buatan Ros tak hanya membuat kagum para pencinta industri kerajinan di dalam negeri, namun juga diminati oleh warga di berbagai negara. Termasuk beberapa negara Eropa, seperti, Italia, Denmark, dan Amerika Serikat. "Produk saya ini, jadi salah satu yang diperhitungkan di Korea Selatan Handmade Summer dan IFFT Tokyo," ujarnya.

Baru-baru ini 200 unit acoustic speaker itu dikirim ke Jepang dan Korea Selatan untuk dijadikan sampel. Di Jepang, acoustic speaker akan dijual di sebuah prefektur kecil, Kobe.

Gaet generasi milenial

Acoustic speaker ini dibuat untuk menggaet kaum milenial yang ingin serba cepat. Dengan desain sederhana dan mudah dibawa ke mana-mana, acoustic speaker tersebut bisa digunakan untuk pengeras suara ponsel. Tanpa perlu listrik sama sekali. "Ini semacam speaker portable, tetapi ini tidak perlu di-charge. Harganya Rp600 ribu," katanya.

Dalam mendesain sebuah produk, Ros tak hanya melulu soal teknologi. Meski di era milenial, kata dia, harus tetap memperhatikan alam. Sehingga tak menghasilkan banyak sampah. "Kalau kita pikir, misalnya speaker portable yang ada. Kalau sudah jelek dibuang, terus sampahnya bagaimana. Itu yang harus kita pikirkan," ucapnya.

Inacraft sudah menjadi pameran yang "istimewa" di Indonesia. Dan sore ini saya dipercaya untuk hadir dan memberikan penghargaan kepada para entrepreneur muda kreatif di acara Inacraft Award 2018. Saya pribadi percaya diluar sana, di seluruh pelosok Indonesia ada jutaan entrepreneur kreatif muda memiliki karya yang tidak kalah hebat. Ayo terus berkarya, jangan ragu. Buat karya kamu dikenal di dunia internasional. Terutama di era #industri4.0 sekarang ini. Yang semangat berkarya, ayo mana suaranya? #bersamamuIndonesiaMaju #menujuindonesiamaju @kemenperin_ri #inacraft2018

Sebuah kiriman dibagikan oleh Airlangga Hartarto (@airlanggahartarto4.0) pada

Ros juga tak hanya sekadar mencari untung. Dia menegaskan bahwa konsep awal pembuatan pengeras suara ini adalah untuk sustainable atau berkelanjutan. Dalam pembuatannya, acoustic speaker melibatkan anak-anak pesantren.

Dia memberikan pelatihan kepada anak-anak pesantren di Ciamis Jawa Barat supaya bisa berkreasi setelah lulus dari pesantren. "Kalau lulusan pesantren ini kan biasanya nanti hubungannya dengan masyarakat religius dan dunia pendidikan. Mereka kebanyakan jadi guru," katanya.

Ros berharap nantinya para lulusan pesantren ini tak hanya mengabdi di bidang pendidikan, tetapi mereka punya keterampilan lain di industri kecil dan bisnis.

Karya yang dihasilkan oleh Ros pun tak hanya acoustic speaker, tetapi ada beberapa produk-produk lain seperti lampu kamar dari bambu, yang sudah menggunakan touch screen. Kemudian ada lagi peralatan di dapur yang menggunakan bambu.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sangat mengapresiasi perajin yang produknya mampu bersaing dalam kompetisi global. Dia berharap para perajin Indonesia bisa meningkatkan iklim kompetitif yang mendorong lahirnya inovasi produk baru di bidang kerajinan.

airlangga hartarto di pameran inacraft

Airlangga Hartarto di pameran Inacraft ©2018 Merdeka.com


Airlangga menuturkan, sebuah produk bisa dikatakan unggulan bila memiliki desain menarik, inovasi, berciri khas, dan mencerminkan kearifan lokal daerah di Indonesia. Dan yang tak kalah penting adalah berorientasi pasar.

"Saya minta para perajin untuk terus meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam mengembangkan produk, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing," ucapnya.

(mdk/esy)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami